IRA SUARILAH


Berpacu menjadi yang terbaik

Orang Tua

Sepertinya, orang-orang yang berlatar pendidikan rendah selevel SD atau bahkan tidak lulus SD itu berbanding lurus dengan harga diri rendah dan sosial ekonomi low-end. Pada beberapa dari mereka, juga memiliki sudut pandang yang rendah/negatif dan kurang bersahabat terhadap perubahaan. Norma sosial-lah, salah satunya, yang  menempatkan kita sebagai orang muda harus menghormati mereka yang tua, termasuk orang tua yang belatar belakang tersebut di atas. Karena norma sosial itu pulalah, kita akhirnya patuh dan mendengarkan pandangan2 mereka termasuk ketika beberapa dari mereka meminta-setengah memaksa atau full memaksa kita untuk mengikuti apapun secara tanpa syarat apa yang mereka maukan/inginkan/nasehatkan.

Orang tua dan kita adalah sama-sama orang dewasa. Dalam kaca mata sebagai orang dewasa, kadang kita menemukukan apa yang disampaikan oleh orang tua itu, tidak masuk di akal sama sekali. Orang tua melontarkan pernyataan yang sangat emosional, sungguh di luar nalar-logika. Tapi sebagai anak muda, untuk menyampaikan sebuah pernyataan ketidaksetujuan terhadap mereka kadang hanyalah buang-buang waktu.Hingga kita memutuskan diam demi untuk menghindari dialog panjang lebar dan tak berujung. Karena sebagai orang dewsa, dalam perspektif saya, orang tua seperti ini, mereka kehilangan kemampuan analitis, logis-rasio dalam hal menyampaikan alasan kenapa kita harus ikuti maunya mereka. Alhasil, secara emosi, si orang tua akan mengeluarkan senjata pamungkas tanpa tapi: Pokoknya..dan pokoknya..adalah kosakata sakti yang seringkali mereka obral dengan sangat royal.

Ketika saya melihat seorang orang tua, kehilangan kendali atas emosinya dan kehilangan kemampuan dalam menggunakan nalar-logikanya, reflek pula, ada sebuah rasa yang hilang terhadap mereka..

Dalam benak saya, orang tua adalah seseorang memiliki kemampuan agar anak-anaknya atau siapapun yang lebih muda menaruh hormat kepada mereka karena faktor 'ketuaan' mereka. Faktor kematangan emosi, sikap, pengalaman, kedewasaan dalam berfikir, bertindak dan bertutur kata..adalah hal yang tanpa vocab POKOK-nya sekalipun, saya akan sangat menaruh hormat kepada mereka.Ada 'respek' kita terhadap mereka,itu bahasa yang tepatnya barangkali.

Saya yakin tidak semua mereka yang telah tua, berpendidikan rendah dan ditambah pula dengan latar belakang status ekonomi-sosial  low-end, berada dalam lingkaran setan yang memuakkan ini: Udah miskin-sombong, close mind,pelit, lemot dan rendah diri.

Oleh karena hal tersebut di atas, saya sedang merancang,menyiapkan masa depan saya, ketika tua nanti saya akan menjadi orang tua seperti apa?

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :