IRA SUARILAH


Berpacu menjadi yang terbaik

KEBUTUHAN ISTIRAHAT TIDUR

PEMENUHAN KEBUTUHAN ISTIRAHAT TIDUR

Written by Ira Suarilah., S.Kp. M.Sc

A. Konsep Teori

1. Pengertian Istirahat dan Tidur

Istirahat dan tidur merupakan kebutuhan dasar yang mutlak harus dipenuhi oleh semua orang. Istirahat dan tidur yang cukup, akan membuat tubuh baru dapat berfungsi secara optimal. Istirahat dan tidur sendiri memiliki makna yang berbeda pada setiap individu. Istirahat berarti suatu keadaan tenang, relaks, tanpa tekanan emosional, dan bebas dari perasaan gelisah. Beristirahat bukan berarti tidak melakukan aktivitas sama sekali. Berjalan-jalan di taman terkadang juga bisa dikatakan sebagai suatu bentuk istirahat.

Tidur adalah status perubahan kesadaran ketika persepsi dan reaksi individu terhadap lingkungan  menurun. Tidur dikarakteristikkan dengan aktifitas fisik yang minimal, tingkat kesadaran yang bervariasi, perubahan proses fisiologis tubuh, dan penurunan respon terhadap stimulus eksternal. Hampir sepertiga dari waktu individu digunakan untuk tidur. Hal tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa tidur dapat memulihkan atau mengistirahatkan fisik setelah seharian beraktivitas, mengurangi stres dan kecemasan, serta dapat meningkatkan kemampuan dan konsentrasi saat hendak melakukan aktivitas sehari-hari

 

2. Fisiologi tidur

Pusat tidur yang utama terletak di hipotalamus. Hipotalamus mensekresi hipokreatin (oreksin) yang menyebabkan seseorang terjaga juga mengalami tidur  rapid eye movement. Prostaglandin D2, L–triptopan, dan faktor pertumbuhan membantu mengatur tidur (Mc Cance and Huether, 2006 cit Potter dan Perry, 2009)

Aktivitas tidur diatur dan dikontrol oleh dua sistem pada batang otak, yaitu Reticular Activating Sistem (RAS) dan Bulbar Synchronizing Region (BSR). RAS di bagian atas batang otak diyakini memiliki sel-sel khusus yang dapat mempertahankan kewaspadaan dan kesadaran; memberi stimulus visual, pendengaran,  nyeri, dan sensori raba; serta emosi dan proses berfikir. Pada saat sadar, RAS melepaskan katekolamin, sedangkan pada saat tidur terjadi pelepasan serum serotonin dari BSR .

Saat bangun RAS mengeluarkan katekolamin seperti norepineprin. Ketika seseorang mencoba  tidur, mereka akan menutupkan mata dan berada dalam posisi relaks. Stimulus ke RAS  menurun. Jika ruangan gelap dan tenang, maka aktifitas SAR menurun. Pada beberapa bagian , SBR mengambil alih dan menyebabkan

 

3. Irama sirkandian

Irama sirkandian/diural berasal dari bahasa latin circa, “tentang” dan dies, “hari”. Irama sirkandian berarti siklus 24 jam/siang dan malam.

Setiap makhluk hidup memiliki bioritme (jam biologis) yang berbeda. Pada manusia, bioritme ini dikontrol oleh tubuh dan disesuaikan dengan faktor lingkungan (mis; cahaya, kegelapan, gravitasi dan stimulus elektromagnetik). Bentuk bioritme yang paling umum adalah ritme sirkadian-yang melengkapi siklus selama 24 jam.

Setiap orang mengalami siklus yang terjadi didalam hidupnya. Irama sirkandian/diural berasal dari bahasa latin circa, “tentang” dan dies, “hari”. Irama sirkandian berarti siklus 24 jam/siang dan malam. Siklus menstruasi wanita adalah sebuah irama infrandian, adalah siklus yang terjadi lebih dari 24 jam. Siklus biologis berakhir kurang dari 24 jam disebut irama ultradian.

Dalam hal ini, fluktuasi denyut jantung, tekanan darah, temperatur, sekresi hormon, metabolisme dan penampilan serta perasaan individu bergantung pada ritme sirkadiannya. Tidur adalah salah satu irama biologis tubuh yang sangat kompleks. Sinkronisasi sirkadian terjadi jika individu memiliki pola tidur bangun yang mengikuti jam biologisnya: individu akan bangun pada saat ritme fisiologis paling tinggi atau paling aktif dan akan tidur pada saat ritme tersebut paling rendah (Lilis, Taylor, Lemone,1989).

 

4. Fungsi Istirahat Tidur

  1. Regenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi baru.
  2. Menambah konsentrasi dan kemampuan fisik.
  3. Memperlancar produksi hormon pertumbuhan tubuh.
  4. Memelihara fungsi jantung.
  5. Mengistirahatkan tubuh yang letih akibat aktivitas seharian.
  6. Menyimpan energi.
  7. Meningkatkan kekebalan tubuh kita dari serangan penyakit.
  8. Menambah konsentrasi dan kemampuan fisik.

                   


 

5. Tahap tidur

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 6.1 Tahap Tidur

 

Sejak adanya alat EEG (Elektro Encephalo Graph), maka aktivitas-aktivitas di dalam otak dapat direkam dalam suatu garafik. Alat ini juga dapat memperlihatkan fluktuasi energi (gelombang otak) pada kertas grafik. Penelitian mengenai mekanisme tidur mengalami kemajuan yang sangat pesat dalam 10 tahun terakhir, dan bahkan sekarang para ahli telah berhasil menemukan adanya 2 (dua) pola/macam/tahapan tidur, yaitu :

 

6. Pola tidur

a. Pola tidur biasa atau NREM

Pola/tipe tidur biasa ini juga disebut NREM (Non Rapid Eye Movement = Gerakan mata tidak cepat). Pola tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam tidur gelombang pendek karena gelombang otak selama NREM lebih lambat daripada gelombang alpha dan beta pada orang yang sadar atau tidak dalam keadaan tidur (lihat gambar). Tanda-tanda tidur NREM adalah :

1)    Mimpi berkurang

2)    Keadaan istirahat (otot mulai berelaksasi)

3)    Tekanan darah turun

4)    Kecepatan pernafasan turun

5)    Metabolisme turun

6)    Gerakan mata lambat

Fase NREM atau tidur biasa ini berlangsung ± 1 jam dan pada fase ini biasanya orang masih bisa mendengarkan suara di sekitarnya, sehingga dengan demikian akan mudah terbangun dari tidurnya. Tidur NREM ini mempunyai 4 (empat) tahap yang masing-masing-masing tahap di tandai dengan pola gelombang otak.

1) Tahap I

Tahap ini merupakan tahap transisi, berlangsung selama 5 menit yang mana seseorang beralih dari sadar menjadi tidur. Seseorang merasa kabur dan relaks, mata bergerak ke kanan dan ke kiri, kecepatan jantung dan pernafasan turun secara jelas. Gelombang alpha sewaktu seseorang masih sadar diganti dengan gelombang betha yang lebih lambat. Seseorang yang tidur pada tahap I dapat di bangunkan dengan mudah. Ketika bangun seseorang merasa seperti telah melamun.

2) Tahap II

Tahap ini merupakan tahap tidur ringan, dan proses tubuh terus menurun. Mata masih bergerak-gerak, kecepatan jantung dan pernafasan turun dengan jelas, suhu tubuh dan metabolisme menurun. Gelombang otak ditandai dengan “sleep spindles” dan gelombang K komplek. Tahap II berlangsung pendek dan berakhir dalam waktu 10 sampai dengan 15 menit. Pada tahap ini merupakan periodetidur bersuara, kemajuan relaksasi, untuk bangun relatif mudah.

3). Tahap III

Pada tahap ini meliputi awal dari tidur dalam. Otot-otot dalam keadaan santai penuh, kecepatan jantung, pernafasan serta proses tubuh berlanjut mengalami penurunan akibat dominasi sistem syaraf parasimpatik. Seseorang menjadi lebih sulit dibangunkan dan jarang bergerak. Gelombang otak menjadi lebih teratur dan terdapat penambahan gelombang delta yang lambat. Tahap ini berlangsung 15-30 menit.

4) Tahap IV

Tahap ini merupakan tahap tidur dalam yang ditandai dengan predominasi gelombang delta yang melambat. Kecepatan jantung dan pernafasan turun. Seseorang dalam keadaan rileks, jarang bergerak dan sulit dibangunkan. (mengenai gambar grafik gelombang dapat dilihat dalam gambar). Siklus tidur sebagian besar merupakan tidur NREM dan berakhir dengan tidur REM. Tahap ini berlangsung 15-30 menit.

b. Pola Tidur Paradoksikal atau REM

Pola/tipe tidur paradoksikal ini disebut juga (Rapid Eye Movement = Gerakan mata cepat). Tidur tipe ini disebut “Paradoksikal” karena hal ini bersifat “Paradoks”, yaitu seseorang dapat tetap tertidur walaupun aktivitas otaknya nyata. Ringkasnya, tidur REM / Paradoks ini merupakan pola/tipe tidur dimana otak benar-benar dalam keadaan aktif. Namun, aktivitas otak tidak disalurkan ke arah yang sesuai agar orang itu tanggap penuh terhadap keadaan sekelilingnya kemudian terbangun. Pola/tipe tidur ini, ditandai dengan :

1) Mimpi yang bermacam-macam

Perbedaan antara mimpi-mimpi yang timbul sewaktu tahap tidur NREM dan tahap tidur REM adalah bahwa mimpi yang timbul pada tahap tidur REM dapat diingat kembali, sedangkan mimpi selama tahap tidur NREM biasanya tak dapat diingat. Jadi selama tidur NREM tidak terjadi konsolidasi mimpi dalam ingatan.

a)    Mengigau atau bahkan mendengkur (ngorok)

b)    Otot-otot kendor (relaksasi total)

c)    Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih cepat

d)    Perubahan tekanan darah

e)    Gerakan otot tidak teratur

f)    Gerakan mata cepat

g)    Pembebasan steroid

h)    Sekresi lambung meningkat

i)     Ereksi penis pada pria

Syaraf-syaraf simpatik bekerja selama tidur REM. Dalam tidur REM diperkirakan terjadi proses penyimpanan secara mental yang digunakan sebagai pelajaran, adaptasi psikologis dan memori (Hayter, 1980:458). Fase tidur REM (fase tidur nyenyak) ini berlangsung selama ± 20 menit. Dalam tidur malam yang berlangsung selama 6 – 8 jam, kedua pola tidur tersebut (REM dan NREM) terjadi secara bergantian sebanyak 4 – 6 siklus.

 

 

2) Tanda dan gejala:

TAHAP NREM

TAHAP REM

a)    Mimpi berkurang

b)    Keadaan istirahat (otot mulai berelaksasi)

c)    Tekanan darah turun

d)    Kecepatan pernafasan turun

e)    Metabolisme turun

f)    Gerakan mata lambat

a)    Mengigau atau bahkan mendengkur (Jw. : ngorok)

b)    Otot-otot kendor (relaksasi total)

c)    Kecepatan jantung dan pernafasan tidak teratur, sering lebih cepat

d)    Perubahan tekanan darah

e)    Gerakan otot tidak teratur

f)    Gerakan mata cepat

g)    Pembebasan steroid

h)    Sekresi lambung meningkat

i)     Ereksi penis pada pria

 

7. Siklus tidur

Gambar 6.2 Siklus Tidur

8. Kebutuhan istirahat tidur

Tabel 6.1 Kebutuhan Istirahat Tidur berdasarkan usia

Usia

Keterangan

Kebutuhan Tidur/Hari

0 bulan –1 bulan 

Neonatus

14-18 jam

1 bulan – 18 bulan 

Bayi

12-14 jam

18 bulan – 3 tahun 

Anak

11-12 jam

3 tahun – 6 tahun 

Pra sekolah

11 jam

6 tahun – 12 tahun 

Sekolah

10 jam

12 tahun – 18 tahun 

Remaja

8,5 jam

18 tahun – 40 tahun 

Dewasa muda

7 jam

40 tahun – 60 tahun

Paruh baya

7 jam

60 tahun ke atas 

Dewasa tua

6 jam

 

9. Faktor-faktor yang mempengaruhi istirahat tidur

a. Penyakit

Seseorang yang mengalami sakit memerlukan waktu tidur lebih banyak dari normal. Namun demikian, keadaan sakit menjadikan pasien kurang tidur atau tidak dapat tidur. Misalnya pada pasien dengan gangguan pernafasan seperti asma, bronkitis, penyakit kardiovaskuler, dan penyakit persarafan.

b. Lingkungan

Pasien yang biasa tidur pada lingkungan yang tenang dan nyaman, kemudian terjadi perubahan suasana seperti gaduh maka akan menghambat tidurnya.

c. Motivasi

Motivasi dapat memengaruhi tidur dan dapat menimbulkan keinginan untuk tetap bangun dan waspada menahan kantuk.

d.  Kelelahan

Apabila mengalami kelelahan dapat memperpedek periode pertama dari tahap REM.

e. Kecemasan

Pada keadaan cemas seseorang mungkin meningkatkan saraf simpatis sehingga mengganggu tidurnya.

f. Alkohol

Alkohol menekan REM secara normal, seseorang yang tahan minum alcohol dapat mengakibatkan insomnia dan lekas marah.

 

 

 

g.  Obat-obatan

Beberapa jenis obat yang dapat menimbulkan gangguan tidur antara lain:

1)    Diuretik : menyebabkan nokturia

2)    Anti depresan : menekan REM, menurunkan total waktu REM

3)    Kafein : meningkatkan saraf simpatis/ mencegah orang tidur

4)    Beta bloker : menimbulkan insomnia, mimpi buruk

5)    Narkotika : mensuspensi REM, meningkatkan kantuk siang hari.

6)    Alkohol: mengganggu tidur REM, mengganggu tidur REM, membangunkan seseorang pada malam hari dan menyebabkan kesulitan untuk kembali tidur.

 

10. Pola Tidur Normal

 

Neonatus sampai dengan 3 bulan

  1. a.    Kira-kira membutuhkan 16 jam/hari. 
  2. b.    Mudah berespons terhadap stimulus 
  3. c.    Pada minggu pertama kelahiran 50% adalah tahap REM 

Bayi

 

  1. Pada malam hari kira-kira tidur 8-10 jam.
  2. Usia 1 bulan sampai dengan 1 tahun kira-kira tidur 14 jam/hari.
  3. Tahap REM 20-30 %.

Toddler

  1. Tidur 10-12 jam/hari
  2. Tahap REM 25%

Pra sekolah

  1. Tidur 11 jam pada malam hari
  2. Tahap REM 20%

Usia sekolah

  1. Tidur 10 jam pada malam hari
  2. Tahap REM 18,5%

Adolecense

  1. Tidur 8,5 jam pada malam hari
  2. Tahap REM 20%

Dewasa muda

  1. Tidur 7-9 jam/hari
  2. Tahap REM 20-25 %

Usia dewasa pertengahan

  1. Tidur ± 7 jam/hari
  2. Tahap REM 20%

Usia tua

  1. Tidur ± 6 jam/hari
  2. Tahap REM 20-25 %
  3. Tahap IV NREM menurun dan kadang-kadang absen
  4. Sering terbangun pada malam hari

 

11. Gangguan Istirahat Tidur

Insomnia

Insomnia adalah ketidak mampuan memenuhi kebutuhan tidur, baik secara kualitas maupun kuantitas. Gangguan tidur ini umumnya ditemui pada individu dewasa. 

Penyebabnya bisa karena gangguan fisik atau karena faktor mental seperti perasaan gundah atau gelisah. 

Ada tiga jenis insomnia:

  1. 1.    Insomnia inisial : Kesulitan untuk memulai tidur.
  2. 2.    Insomnia intermiten : Kesulitan untuk tetap tertidur karena seringnya terjaga.
  3. 3.    Insomnia terminal : Bangun terlalu dini dan sulit untuk tidur kembali.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi insomnia antara lain dengan mengembangkan pola tidur-istirahat yang efektif melalui olahraga rutin, menghindari ransangan tidur di sore hari, melakukan relaksasi sebelum tidur (mis; membaca, mendengarkan musik),dan tidur jika benar-benar mengantuk.

Parasomnia

 

Parasomnia adalah perilaku yang dapat mengganggu tidur atau muncul saat seseorang tidur. Gangguan ini umum terjadi pada anak-anak. Beberapa turunan parasomnia antara lain sering terjaga (mis; tidur berjalan, night terror), gangguan transisi bangun-tidur (mis; mengigau), parasomnia yang terkait dengan tidur REM (mis; mimpi buruk), dan lainnya (mis; bruksisme).

Hipersomnia

Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia, yaitu tidur yang berlebihan terutama pada siang hari. Gangguan ini dapat disebabkan oleh kondisi tertentu, seperti kerusakan sistem saraf, gangguan pada hati atau ginjal, atau karena gangguan metabolisme (mis; hipertiroidisme). Pada kondisi tertentu, hipersomnia dapat digunakan sebagai mekanisme koping untuk menghindari tanggung  jawab pada siang hari.

Narkolepsi

Narkolepsi adalah gelombang kantuk yang tak tertahankan yang muncul secara tiba-tiba pada siang hari. Gangguan ini disebut juga sebagai “serangan tidur” atau sleep attack. Penyebab pastinya belum diketahui. Diduga karena kerusakan genetik sistem saraf pusat yang menyebabkan tidak terkendali lainnya periode tidur REM.
Alternatif pencegahannya adalah dengan obat-obatan, seperti; amfetamin atau metilpenidase, hidroklorida, atau dengan antidepresan seperti imipramin hidroklorida.

Apnea saat tidur

Apnea saat tidur atau sleep apnea adalah kondisi terhentinya nafas secara periodik pada saat tidur. Kondisi ini diduga terjadi pada orang yang mengorok dengan keras, sering terjaga di malam hari, insomnia, mengatuk berlebihan pada siang hari, sakit kepala disiang hari, iritabilitas, atau mengalami perubahan psikologis seperti hipertensi atau aritmia jantung.

Deprivasi tidur

 

Deprivasi tidur adalah masalah yang dihadapi banyak klien akibat disomnia. Penyebab dapat mencakup penyakit (misal: demam, sulit bernafas atau nyeri), stress emosional, obat-obatan, gangguan lingkungan (misal asuhan keperawatan yang dilakukan) dan keanekaragaman waktu tidur yang terkait dengan waktu kerja. Dokter dan perawat cenderung mengalai deprivasi tidur karena jadwal kerja yang panjang dan rotasi jam dinas.

Deprivasi tidur menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas tidur serta ketidak konsistenan waktu tidur. Respon orang terhadap deprivasi sangat bervariasi, gejala fisiologis: ptosis, penglihatan kabur, kekakuan motorik halus, penurunan reflek, waktu respon melambat, penilaian menurun, aritmia jantung. Gejala psikologisnya: bingung, peningkatan sensifitas nyeri, menarik diri, apatis, rasa kantuk berlebihan, agitasi, hiperaktif, penurunan motifasi.

 

B. Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

  1. Riwayat tidur

1)    kuantitas (lama tidur) dan kualitas watu tidur di siang dan malam hari

2)    Aktivitas dan rekreasi yang di lakukan sebelumnya

3)    Kebiasaan/pun saat tidur

4)    Lingkungan tidur

5)    Dengan siapa paien tidur

6)    Obat yang di konsumsi sebelum tidur

7)    Asupan dan stimulan

8)    Perasaan pasien mengenai tidurnya

9)    Apakah ada kesulitan tidur

10) Apakah ada perubahan tidur

  1. Gejala Klinis

1)    Perasaan Lelah

2)    Gelisah

3)    Emosi

4)    Apetis

5)    Adanya kehitaman di daerah sekitar mata bengkak

6)    konjungtin merah dan mata perih

7)    Perhatian tidak fokus

8)    Sakit kepala

 

  1. Penyimpangan Tidur

1)    Insomnia

Pengertian insomnia mencakup banyak hal. Insomnia dapat berupa kesulitan untuk tidur atau kesulitan untuk tetap tidur, bahkan seseorang yang terbangun dari tidur tapi merasa belum cukup tidur dapat di sebut mengalami insomnia (japardi 2002). Jadi insomnia merupakan ketidak mampuan untuk mencukupi kebutuhan tidur baik secara kualitas maupun kuantitas. Insomnia bukan berarti seseorang tidak dapat tidur/kurang tidur karena orang yang menderita insomnia sering dapat tidur lebih lama dari yang mereka pikirkan, tetapi kualitasnya berkurang.

2)    Somnambulisme

Merupakan gangguan tingkah laku yang sangat kompleks mencakup adanya otomatis dan semipurposeful aksi motorik, seperti membuka pintu, duduk di tempat tidur, menabrak kursi,berjalan kaki dan berbicara. Termasuk tingkah laku berjalan dalam beberapa menit dan kembali tidur (Japardi 2002). Lebih banyak terjadi pada anak-anak, penderita mempunyai resiko terjadinya cidera.

3)    Enuresis

Enuresis adalah kencing yang tidak di sengaja (mengompol) terjadi pada anak-anak, remaja dan paling banyak pada laki-laki, penyebab secara pasti belum jelas, namun ada bebrapa faktor yang menyebabkan Enuresis seperti gangguan pada bladder, stres, dan toilet training yang kaku.

4)    Narkolepsi

Merupakan suatu kondisi yang di cirikan oleh keinginan yang tak terkendali untuk tidur, dapat di katakan pula bahwa Narkolepsi serangan mengantuk yang mendadak sehingga ia dapat tertidur pada setiap saat di mana serangn mengantuk tersebut datang.

Penyebabnya secara pasti belum jelas, tetapi di duga terjadi akibat kerusakan genetikasistem saraf pusat di mana periode REM tidak dapat di kendalikan. Serangan narkolepsi dapat menimbulkan bahaya bila terjadi pada waktu mengendarai kendaraan, pekerja yanng bekerja pada alat-alat yang berputar-putar atau berada di tepi jurang.

5)    Night Terrors

Adalah mimpi buruk, umumnya terjadi pada anak usia 6 tahun atau lebih, setelah tidur beberapa jam, anak tersebut langsung terjaga dan berteriak, pucat dan ketakutan.

6)    Mendengkur

Disebabkan oleh adanya rintangan terhadap pengaliran udara di hidung dan mulut. Amandel yang membengkak dan Adenoid dapat menjadi faktor yang turut menyebabkan mendengkur. Pangkal lidah yang menyumbat saluran nafas pada lansia. Otot-otot dibagian belakang mulut mengendur lalu bergetar bila di lewati udara pernafasan.

 

2. Diagnosis Keperawatan

  1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kerusakan transfer oksigen, gangguan metabolisme,kerusakan eliminasi,,pengaruh obat,imobilisasi, nyeri pada kaki, takut operasi, lingkungan yang mengganggu.
  2. Cemas berhubungan dengan ketidak mampuan untuk. tidur, henti nafas saat tidur,a(sleep apnea) dan keetidak mampuan mengawasi prilaku.
  3. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan insomnia.
  4. Gangguan ukaran gas berhubungan henti nafas saat tidur.
  5. Resiko cidera berhubungan dengan Semnambolisme.
  6. Gangguan konsep diri berhubungan dengan penyimpangn tidur hipersomia.

 

3. Perencanaan Keperawatan

  1. Tujuan:

Perencanan keperawatan berhubungan dengan cara untuk mempertahankan kebutuhan istirahat dan tidur dalam batas normal.

  1. Rencana Tindakan :

1)    Lakukan identifikasi faktor yang mempengaruhi masalah tidur.

2)    Lakukan pengurangan distraksi lingkungan dan hal yang dapat mengganggu tidur.

3)    Tingkatkan aktivitas pada siang hari

4)    Coba untuk memicu tidur

5)    kurangi resiko cedera selama tidur

6)    Berikan pendidikan kesehatan dan lakukan rujukan jika di perlukan.

 

4. Pelaksanaan keperawatan

  1. Tindakan keperawatan pada orang dewasa:

1)    Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi masalah tidur.

a)    Bila terjadi pada pasien rawat inap, masalah tidur di hubungkan dengan lingkungan rumah sakit, maka :

(1)  Libatkan pasien dalam pembuatan jadwal aktivitas

(2)  Berikan obat analgesik sesuai pro

(3)  Berikan linngkungan yang suportif

(4)  Jelaskan dan berikan dukungan pada pasien agar tidak takut akan cemas.

b)    Bila faktor insomnia maka

(1)  Anjurkan pasien memakan makanan yang berprotein tinggi sebelum tidur.

(2)  Anjurkan pasien tidur pada waktu sama dan hindari tidur pada waktu siang dan sore hari.

(3)  Anjurkan pasien tidur saat mengantuk.

(4)  Anjurkan pasien mennghindari kegiatan yang membangkitkan minat sebelum tidur.

(5)  Anjurkan pasien menggunakan teknik pelepasan otot serta meditasi sebelum tidur.

c)    Bila terjadi somnambulisme, maka :

(1)  Berikan rasa aman pada diri pasien

(2)  Bekerjasama dengan tim medis dalam tindakan pengobatan.

(3)  Cegah timbulnya cidera.

d)    Bila terjadi enuresa, maka :

(1)  Anjurkan pasien mengurangi minum beberapa jam sebelum tidur.

(2)  Anjurkan pasien melakukan pengosongan kandungan kemih sebelum tidur.

(3)  Bangunkan pasien pada malam hari untuk buang air kecil.

e)    Bila terjadi Narkolepsi, maka :

(1)  Berikan obat kelompok Amfetamin /kelomppok Metilfenidat hidroklorida (ritalin) Untuk mengendalikan narkolepsi

2)    Mengurangi distraksi lingkungan dan hal yang mengganggu tidur.

a)    Tutup pintu kamar pasien

b)    Pasang kelambu/garden tempat tidur

c)    Matikan pesawat telapon

d)    Bunyikan musik yang lembut

e)    Redupkan atau matikan lampu

f)    Kurangi jumlah stimulus

g)    Tempatkan pasien dengan kawan sekamar yang cocok.

3)    Meningkatkan aktivitas pada siang hari :

a)    Buat jadwal aktivitas yang dapat menolong pasien

b)    Usahakan pasien tidak tidur pada siang hari.

4)    Membuat Pasien untuk memicu tidur.

a)    Anjurkan pasien mandi sebelum tidur

b)    Anjurkan pasien minum susu hangat.

c)    Anjurkan pasien membaca buku

d)    Anjurkan pasien menonton televisi

e)    Anjurkan pasien menggosok gigi sebelum tidur

f)    Anjurkan pasien embersihkan muka sebelum tidur

g)    Anjurkan pasien membersuihkan tempat tidur

5)    Mengurangi potensial cedera sebelum tidur

a)    Gunakan cahaya lampu malam.

b)    Posisikan tempat tidur yang rendah.

c)    Letakkan bel dekat pasien.

d)    Ajarkan pasien untuk meminta bantuan

e)    Gantungkan selang Drainase di tempat tidur dan cara memindahkannya bila pasien menggunakannya.

6)    Memberi pendidikan kesehatan dan rujukan.

a)    Ajarkan rutinitas jadwal tidur di rumah.

b)    Ajarkan pentingkan latihan reguler ± ½ jam.

c)    Penerangan tentang efek samping obat hipnotik

d)    Lakukan rujukan segera bila gangguan tidur kronis.

 

  1. Tindakan Keperawatan Pada Anak

1)    Masa Neonatus Dan bayi

a)    Beri sprai kering dan tebal untuk menutupi perlak.

b)    Hindarkan pemberian bantal yang terlalu banyak.

c)    Atur suhu ruangan menjadi 18o-21o C pada malam dan 15,5o-18o C pada siang.

d)    Berikan cahaya lampu yang lembut

e)    Yakinkan bayi merasa nyaman dan kering.

f)    Berikan aktivitas yang tenang sebelum menidurkan bayi.

2)    Masa Anak

a)    Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten.

b)    Tempel jadwal tidur

c)    Berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur.

d)    Dukung aktivitas ”pereda ketegangan” seperti bercerita.

3)    Masa Sebelum Sekolah

a)    Berikan kebiasaan waktu tidur malam dan siang secara konsisten.

b)    Tempel jadwal tidur

c)    Berikan aktivitas yang tenang sebelum tidur.

d)    Dukung aktivitas ”pereda ketegangan” seperti bercerita

e)    Sering perlihatkan ketergantungan selama menjelang tidur.

f)    Berikan rasa aman dan nyaman

g)    Nyalakan lampu agak terang

4)    Masa Sekolah

a)    Mengingatkan waktu istirahat dan tidur karena umumnya banyak beraktivitas.

5)    Masa remaja

a)    Usia ini sering memerlukan waktu sebelum tidur cukup lama untuk berias dan membersihkan diri

6)    Masa Dewasa (Muda, Paruh Baya, dan Tua)

a)    Bantu melepaskan ketegangan sebelum tidur.

b)    Berikan hiburan.

c)    Kurangi rasa nyeri.

d)    Bersihkan tempat tidur.

 

  1. Membuat lingkungan menjadi aman serta dekat dengan perawat.

1)    Berikan selimut sehingga tidak kedinginan.

2)    Anjurkan pasien latihan relaksasi.

3)    Berikan makan ringan atau susu hangnt sebelum tidur.

4)    Berikan obat sedaktif sesuai program terapi kolaboratif.

5)    Bantu pasien mendapatkan posisi tidur yang nyaman.

 

5. Evaluasi Keperawatan.

  1. Klien menggunakan terapi relaksasi setiap makan malam sebelum pergi tidur dengan meminta klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.
  2. Klien melaporkan perasaan nyaman setelah terbangun di pagi hari dengan meminta klien melaporkan keberhasilan tidur dan tetap tidur.
  3. Klien melaporkan dapat menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan dalam 4 minggu dengan mengobservasi ekspresi dan prilaku nonverbal pada saat klien terjaga.
  4. Pola tidur normal untuk masa anak adalah 11-12 jam /hari terpenuhi, masa sekolah 10 jam/hari terpenuhi, masa remaja 7-8 jam/hari terpenuhi.

 

Latihan

Kasus 1

Tn. Sanjay (69th) dirawat satu kamar dengan Tn.Tan Peng Lian (74th). Tn. Sanjay mengeluh tidak bisa tidur karena terganggu cahaya lampu dan AC yang terlalu dingin. Sedangkan Tn.Tan Peng Lian punya kebiasaan tidur memakai selimut,membaca sebelum tidur dan selalu tertidur sebelum mematikan lampu. Jika suhu AC dinaikkan, Tn Tan Peng Lian langsung memanggil perawat dan melaporkan Ac-nya kurang dingin. Jika lampu sudah dimatikan, diam-diam Tn.Tan Peng Lian menyalakan dan lupa mematikan kembali. Akibatnya, Tn. Sanjay tampak lesu, mata cekung,ekanan darah dan nadi meningkat melebihi batas normal

Kasus 2

Ny. Widya (32th), mengeluh seringkali terbangun di tengah malam dan sulit untuk bisa tidur kembali hingga pagi dan akhirnya harus berangkat kerja. Kejadian ini sudah berlangsung selama 6bulan. Ny. Widya sudah mencba pengobatan herbal untuk mengatasi masalah tidur yang dialaminya tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda berhasil. Dalam 24 jam, Ny. Widya hanya bisa tidur 2 sd.3jam dan itu seringkali membuatnya mudah lelah,sakit flu dan mengurangi produktivitas kerjanya.

 

BUATLAH

  1. Pengkajian
  2. Analisa data
  3. Dua diagnosa keperawatan prioritas
  4. Rencana intervensi (tujuan umum, khusus, kriteria hasil dan rasional tindakan)

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :