IRA SUARILAH


Berpacu menjadi yang terbaik

ELIMINASI PERKEMIHAN

Eliminasi Perkemihan

 

Tujuan :

Penguasaan isi bab ini akan memampukan mahasiswa untuk :

  • Mendefinisikan istilah penting yang terdaftar
  • Mendeskripsikan proses perkemihan
  • Mengidentifikasi  faktor-faktor yang biasa mempengaruhi  eliminasi perkemihan
  • Bandingkan dan bedakan perubahan yang biasa terjadi dalam eliminasi perkemihan
  • Menentukan riwayat keperawatan pada klien dengan masalah eliminasi pekemihan
  • Mengidentifikasi diagnosis keperawatan  yang tepat untuk  klien  dengan perubahan eliminasi perkemihan
  • Menentukan spesimen urin
  • Mendeskirpsikan karakteristik urin normal dan abnormal
  • Mendeskirpsikan implikasi keperawatan pada tes diagnostik yang biasa dilakukan dalam sitem perkemihan
  • Mendiskusikan tindakan (measure) keperawatan untuk meningkatkan mikturisi (micturition) dan menurunkan kejadian inkontinensia
  • Memasukan kateter urin
  • Mendiskusikan tindakan keperawatan untuk menurunkan infeksi saluran keperawatan
  • Mengirigasi kateter urin
  • Mengidentifikasi dua mudalitas untuk terapi penggantian ginjal

 

Eliminasi normal pembuangan urin adalah fungsi dasar yang pasti terdapat pada setiap orang. Ketika sistem perkemihan mengalami kegagalan fungsi, sebenarnya semua sistem organ pada akhirnya akan terpengaruh. Klien dengan perubahan eliminasi urin bisa menderita secara emosional dengan perubahan citra tubuh. Perawat harus memahami dan sensitif terhadap semua kebutuhan klien. Perawat harus memahami alasan  terjadinya masalah eliminasi perkemihan dan menemukan solusi yang dapat diterima.

 

Dasar Pengetahuan Ilmiah

Eliminasi urin tergantung pada fungsi ginjal, ureter, kandung kemih dan uretra. Ginjal memindahkan sampah dari darah ke urin. Ureter mengagkut urin dari ginjal ke kandung kemih. Kandung kemih menampung urin sampai ada keinginan untuk berkemih . Urinn keluar dari tubuh melalui utetra. Semua organ pada sistem perkemihan harus lengkap dan berfungsi untuk keberhasilan mengeluarkan sampah perkemihan. (Gambar 44-1).

 

Ginjal

Ginjal terletak di sisi tulang vertebra di belakang peritoneum dan pada otot dalam punggung. Ginjal terletak memanjang dari vertebra torak ke duabelas sampai dengan vertebra lumbar ketiga. Normalnya, ginjal kiri lebih tinggi dari pada yang kiri karena posisi anatomis hati.

       Sampah hasil metabolisme yang terkumpul di dalam darah disaring di dalam ginjal. Darah mencapai ginjal melalui arteri renal (ginjal) yang bercabang dari aorta abdominal. Kurang lebih 20 % sampai 25 % keluaran jantung bersirkulasi setiap menit memalui ginjal. Nefron , unit fungsional ginjal, membentuk urin. Nefron terdiri atas glumerolus, kapsul Bowman, tubulus proksimal yang berbelit (convoluted), lingkaran Henle, tubulus distal dan duktus pengumpul. (Gambar 44-2)

       Sekelompok pembuluh darah membentuk jaringan kapiler di glumerolus, yang merupakan tepat dimulainya penyaringan darah dan permulaan pembentukan urin. Kapiler glumerolus melakukan penyaringan air, glukosa, asam amino, urea, kreatinin dan elektrolit elektrolit utama ke dalam kapsul Bowman. Protein yang besar dan sel adarah normalnya tidak disaring melalui glumerolus. Terdapatnya protein besar dalam urin (proteinuria)  merupakan tanda terjadinya injuri pada glumerolus. Glumerolus menyaring kurang lebih 125 ml penyaringan setiap menit.

       Tidak semua penyaringan glumerolus mengeluarkan urin. 99 % hasil penyaringan diabsorbsi ke dalam plasma , sisanya 1 % dikeluarkan sebagai urin (McCance dan Huether, 2002). Ginjal berperan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit (lihat bab 40). Walaupun keluaran berrgantung pada asupan, keluaran urin normal dewasa adalah 1500 -1600 ml/hari. Keluaran kurang dari 30 ml/ hari mengindikasikan perubahan ginjal. Ginjal juga menghasilkan beberapa substansi penting untuk memproduksi sel darah merah (RBC), pengaturan tekanan darah dan mineralisasi tulang.

       Ginjal bertanggung jawab untuk mempertahankan jumlah RBC yang normal dengan memproduksi eritropoetin. Eritropoetin berfungsi di dalam sumsum tulang untuk merangsang produksi sel darah merah dam pematangannya dan memperpanjang hidup RBC yang sudah matang (McCance dan Huether, 2002).  Klien dengan perubanhan fungsi ginjal kronis tidak dapat memproduksi sejumlah hormon yang cukup, Untuk itu mereka cenderung mengalami anemia.

       Renin adalah hormon lain yang diproduksi oleh ginjal. Peran utamanya adalah mengatur aliran darah pada saat terjadi iskemi ginjal (penurunan suplai darah). Renin dilepaskan dari sel juxtaglumerolus (Gambar 44-3). Ginjal juga memproduksi prostaglandin E2 dan prostasiklin yang berperan penting dalam mempertahankan aliran darah ginjal dengan vasodilatasi.

         Renin berfungsi sebagai enzim untuk merubah angiotensinogen (sebuah substansi yang disintesis oleh hati) menjadi angiotensin I. Angiotensin I dirubah menjadi angoitensin II di dalam paru-paru. Angiotensin II menyebabkan vasokonstriksi dan merangsang pelepasan aldosteron dari kortek adrenal. Aldosteron menyebabkan retensi air, yang akan meningkatkan volume darah. Kedua mekanisme tersebut meningkatkan tekanan darah arteri dan aliran darah ginjal. (Mc Cance dan Huether, 2002).

       Ginjal juga berperan dalam pengaturan kalisiun dan fosfat dengan memperoduksi substansi  yang merubah vitamin D kedalam bentuk yang aktif. Klien dengan kerusakan kronis pada ginjal fungsinya tidak dapat membuat vitamin D yang aktif dalam jumlah yang cukup. Hal tersebut cenderung berkembang menjadi penyakit rulang ginjal (renal bone) akibat dari demineralisasi tulang yang diakibatkan oleh kerusakan penyerapan kalsium.

 

Ureter

Urin masuk ke pelvis renal dari duktus pengumpul dan berjalan menuju kandung kemih melewati ureter. Ureter adalah suatu bentuk tubulus yang masuk ke dalam kandung kemih di dalam rongga pelvis pada  persimpangan ureterovesikal . Urin yang dikeluarkan dari ureter ke kandung kemih biasanya steril.

       Tiga lapisan jaringan membentuk dinding ureter. Lapisan yang paling adalam adalah membran mukosa yang dihubungkan dengan garis (lining) pada pelfis ginjal dan kandung kemih. Lapisan yang tengah terdiri dari serat otot halus yang membawa urin dengan gelombang peristaltik. Lapisan paling luar merupakan jaringan penghubung fibrosa yang mendukung ureter.

       Gelombang peristaltik menyebabkan urin mesuk ke dalam kandung kemih dengan menyembur dari pada mengalir dengan tenang. Ureter masuk dengan miring melalui dinding kandung kemih sebelah belakang. Pengaturan ini secara normal mencegah kembalinya urin dari kandung kemih ke dalam ureter selama terjadinya mikturisi  dengan penekanan ureter pada persimpangan uret, urterovesikal (titik temu uteret dengan kandung kemih). Obstruksi di dalam ureter, seperti batu ginjal (renal kalkulus), menghasilkan gelombang peristaltik yang kuat mencoba untuk memindahkan obstruksi ke dalam kandung kemih. Gerombang peristaltik yang kuat ini menakibatkan nyeri yang sering dijelaskan sebagai kolik renal.

 

Gambar 44-1 Organ-organ pada sistem perkemihan

Adrenal gland = kelenjar adrenal

Right kidney = ginjal kanan

Left kidney = ginjal kiri

Ureters = ureter

Bladder = kandung kemih

Orifices of ureters = orifisuim ureter

Trigone =

Urethra = uretra

 

Gambar 44-2 Nefron ginjal

Proximal convuloted tubules = Tubulus proksimal yang berbelit

Glumerolus = glumerolus

Afferent renal artery = arteri ginjal aferen

Distal convulated tubules = Tubulus distal yang berbelit

Collecting duct = duktus pengumpul

Loop of Henle = Lingkaran Henle

 

Kandung Kemih

Kandung kemih adalah suatu lubang (hollow) , dapat mengembang, organ berotot yang menampung dan mengeluarkan urin. Saat kosong, kandung kemih terletak di dalam rongga pelvis di belakang simpisis pubis. Pada laki-laki kandung kemih terletak menyandar pada dinding rectum bagian depan dan pada wanita  kandung kemih bersandar pada dinding depan uterus dan vagina.

       Kandung kemih mengembang dan akan diisi dengan urin. Tekanan di dalam kandung kemih biasanya lembut, bahkan ketika sudah terisi penuh, adalah satu faktor yang  melindungi dari infeksi. Saat kandung kemih terisi penuh, akan mengembang dan membesar di atas simpisis pubis. Pengembangan yang paling besar dapat mencapai umbilicus. Pada wanita hamil perkembangan fetus akan menekan melawan kandung kemih, mengurangi kapasitas kandung kemih dan menyebabkan perasaan penuh. Efek ini lebih sering terjadi pada trimester satu dan tiga.

       Trigone ( area triangular yang lunak pada permukaan dalam kandung kemih) berada pada bagian bawah kandung kemih. Pembukaan (an opening) terdapat pada setiap tiga sudut trigone. Dua untuk ureter dan satu untuk uretra.

       Dinding kandung kemih memiliki empat lapisan : lapisan mukosa dalam, jaringan penghubung lapisan submukosa, lapisan berotot dan lapisan luar serosa. Lapisan otot terikat pada serat otot yang membentuk otot detrusor. Spinkter internal uretra, membuat ikatan otot yang menyerupai cincin, yang menjadi alas kandung kemih dimana berhubungan dengan uretra. Spinkter mencegah keluarnya urin dari kandung kemih dan di bawah kontrol kesadaran.

 

Uretra

Urin berjalan dari kandung kemih melalui uretra dan keluar dari tubuh melalui metus uretra. Normalnya aliran turbulen urin melalui uretra mencuci (washes) uretra bebas dari bakteri. Membran mukosa melapisi uretra, dan kelenjar uretra mengeluarkan mucus kedalam kanal uretra. Lapisan tebal otot lunak mengelilingi uretra. Selanjutnya, uretra turun melewati lapisan otot rangka yang disebut otot lantai (floor) pelvis. Saat otot tersebut berkontraksi, hal tersebut mungkin untuk mencegah aliran urin melewati uretra (McCance dan Huether, 2002).

       Pada wanita uretra panjangnya kurang lebih 4 sampai 6.5 cm (1.5 sampai 2 inci). Spinkter yretra eksternal ada di setengah bagian bawah uretra, membuat urin mengalir sendiri. Ukuran uretra yang pendek memungkinkan wanita dan anak perempuan untuk terinfeksi. Bakteri dapat dengan mudah masuk uretra dari area perineal. Pada laki-laki uretra merupakan jalur perkemihan dan jalan lewatnya sel dan sekresi dari organ reproduksi, panjangnya kurang lebih 20 cm (8 inci). Uretra laki-laki memiliki tiga bagian, uretra prostate, membrane uretra dan uretra penis.

 

Terjadinya Perkemihan

 Bebrapa struktur otak mempengaruhi fungsi kandung kemih, terdiri dari kortek serebral, thalamus, hipothalamus dan batang otak. Bersama-sama mereka menekan kontraksi otot detrusor kandung kemih sampai seseorang merasa ingin berkemih atau menahannya. Saat terjadi penahanan, respon yang terjadi adalah kontraksi pada kandung kemih dan relaksasi terkoordinasi pada otot dasar panggul (pelvis).

       Normalnya kandung kemih menampung sebanyak 600 ml urin. Bagaimanapun juga, keinginan untuk berkemih akan dirasakan ketika kandung kemih terisi sejumlah kecil urin (150 sampai 200 ml pada dewasa dan 50 sampai 100 ml pada anak). Semakin meningkatnya volume, dinding kandung kemih meregang, mengirimkan impuls ke pusat mikturisi  di jaras spinal bagian sakrum. Impuls dari pusat mikturisi merangsang otot destrusor untuk berkontaksi. Spinkter uretra internal rileks; urin masuk ke uretra, meskipun pengosongan kandung kemih belum terjadi. Saat kandung kemih berkontraksi, saraf bergerak (impuls) ke otak tengah dan kortek serebral membuat seseorang menyadari kebutuhan untuk berkemih. Anak-anak yang sudah besar dan orang dewasa dapat memebrikan respon atau megabaikan keinginan tersebut, juga berkemih di bawah kendali kesadaran. Jika seseorang memilih untuk tidak  untuk mngosongkan kandung kemih, spinkter urin eksternal tetap berkontraksi, dan reflek mikturisi dihambat. Bagaimanapun juga, jika seseorang siap untuk mengosongkan kandung kemih, spinkter ekstrenal rileks, reflek mikturisi merangsang otot detrusor untuk berkontraksi, dan pengosongan kandung kemih secara efektif akan terjadi.

       Jika keinginan untuk menahan kemih dapat diabaikan berulang kali, kapasitas kandung kemih dapat dicapai dan hasilnya menekan spinkter untuk meneruskan kontrol sendiri yang tidak mungkin.

       Kerusakan pada jaras spinal di atas area sakrum menyebabkan hilangnya kontrol berkemih yang disadari, tetapi jalur reflek mikturisi tetap lengkap, sehingga berkemih dapat terjadi secara refleksif. Kondisi itu disebut reflek berkemih. Jika pengosongan kandung kemih terganggu dengan adanya obstruksi kronis seperti pembesaran prostat, reflek mikturisi yang melebihi waktu (over time) menjadi tidak berfungsi dan terjadi retensi urin yang parah.

 

Gambar 44-3 .Efek fisiologi dari mekanisme renin-angiotensin

 

Renal ischemia = iskemi ginjal

Renin secreted by juxtaglumerular apparatus = renin di keluarkan oleh aparat juktaglumerolus

Angiotensinogen in circulating blood produced by the liver = Angitensinogen di dalam sirkulasi darah diproduksi oleh hati

Angiuotensin I = angiotensin I

Angiotensin II converting enzyme lungs = Angiotensi II perubahan enzim paru-paru

Arterial smooth muscle = arteri otot halus

Aldosteron secretion by adrenal cortex = aldosteron disekresi oleh kortek adrenal

Peripheral vasoconstriction = Vasokonstriksi perifer

Increased blood pressure = peningkatan tekanan darah

Decreased renal ischemia =  menurunnya iskemi ginjal

Sodium and water retention = retensi sodium dan air

 

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkemihan. Banyak faktor yang mempengaruhi volume dan kualitas urin dan kemampuan klien untuk berkemih. Beberapa kondisi patofisiologis bisa akut dan dapat kembali (infeksi saluran kemih), yang lain adalah kronis dan tidak dapat kembali (perlahan, disfungsi ginjal yang terus berkembang progresif). Penyakit yang memperlambat atau menghalangi aktifitas fisik menganggu kemampuan mengosongkan kandung kemih. Faktor sosial budaya dan faktor psikologi dapat mempengaruhi harapan klien terhadap tingkat privasi dan tempat saat berkemih . Tonus otot pada abdomen dan otot dasar panggul menghalangi saat berkemih. Keseimbangan cairan berakibat secara langsung terhadap banyaknya produksi urin. Pembedahan dan prosedur diagnostik mempengaruhi urin dan berkemih dalam bebarapa cara. Pengobatan dapat menganggu produksi dan karakteristik urin dan mempengaruhi terjadinya perkemihan. Masalah yang berhubungan dengan kejadian berkemih dapat merupakan hasil dari proses kognitif, fungsi atau fisik yang menghasilkan inkontinensia, retensi atau infeksi.

 

       Kondisi Penyakit. Proses penyakit yang mempengaruhi eliminasi urin akan berpengaruh pada fungsi renal (perubahan pada volume dan kualitas urin), terjadinya eliminasi urin, atau keduanya. Kondisi yang mempengaruhi volume dan kualitas urin pada umumnya dikategorikan berdasarkan asalnya yaitu prarenal, renal atau postrenal.

       Perubahan prarenal menurunnya sirkulasi aliran darah yang menuju dan melalui ginjal akan menghasilkan penurunan aliran yang menuju jaringan ginjal. Dengan kata lain, perubahan terjadi sebelum sampai pada sistem perkemihan. Penurunan aliran darah ginjal akan menjadi oliguria (berkurangnya kapasitas untuk membentuk urin) atau, sangat sedikit dikenal dengan anuria ( ketidakmampuan memproduksi urin). Penyebabnya meliputi dehidrasi, pendarahan dan gagal jantung kongestif.

       Perubahan renal dihasilkan dari faktor-faktor yang menyebabkan cidera secara langsung pada glumerolus atau tubulus ginjal, akan menganggu fungsi normal penyaringan, penyerapan kembali dan fungsi sekresi. Penyebabnya meliputi reaksi transfusi, penyakit pada glumerolus dan penyakit sistemik seperti diabetes melitus.

       Perubahan prarenal akibat dari obstruksi pada aliran urin pada sistem pengumpul urin yang disebabkan oleh batu, bekuan darah atau tumor dimanapun yang berasal dari kalises (calyces) (bentuk keluaran di dalam ginjal) menuju meatus uretra. Urin dibentuk oleh sistem perkemihan tetapi tidak dapat dikeluarkan dengan cara yang normal.

       Beberapa penyakit dapat mempengaruhi kemampuan untuk mikturisi. Bebrapa lesi pada saraf perifer yang mengendalikan kandung kemih menyababkan hilangnya tonus kandung kemih, menurunkan kemampuan merasakan kandung kemih yang penuh dan kesulitan untuk mengontrol perkemihan. Misalnya pada diabetes melitus dan multipel sklerosis menyababkan kondisi neuropati yang menurunkan fungsi kandung kemih. Lansia laki-laki bisa menderita akibat hipertropi prostat, yang membuat mereka cenderung mengalami retensi urin dan inkontinensia. Klien dengan kerusakan kognitif, seperti pada penyakit Alzhiemer, akan kehilangan kemampuan untuk merasakan kandung kemih yang penuh atau jadi tidak dapat melakukan pengosongan kandung kemih.Penyakit memperlambat atau menghalangi  aktifitas fisik dengan menganggu kemampauan pengosongan kandung kemih. Rheumatoid arthritis, penyakit sendi genaratif, dan Parkinson adalah contoh kondisi yang membuat sulit unruk mencapai dan menggunakan fasilitas kakus (toilet). Klien dengan rheumatoid arthritis sering tidak dapat duduk di atas kakus atau bangkit dari kakus tanpa sebuak kursi elevasi.

       Penyakit yang menyebabkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada glumerolus atau tubulus akan menyebabkan perubahan menetap pada fungsi ginjal. Hasil kemunduran fungsi ginjal dikenal dengan penyakit ginjal tahap akhir (ESRD), dan klien menampakkan berbagai gangguan metabolik yang membutuhkan pengobatan untuk tetap bertahan hidup. Gejala yang berkaitan  yang terjadi akibat hal tersebut adalah  sindrom uremik. Sindrom tersebut karakteristiknya adalah dengahn peningkatan sampah nitrogen di dalam darah, penurunan fungsi pengaturan (menyebabkan abnormalitas cairan dan elektrolit), mual, muntah, sakit kepala, koma dan konvulsi. Masalah tersebut dapat diobati secara konservatif dengan pengobatan dan penatalaksanaan diet dan pembatasan cairan. Bagaimanapun juga , dengan memburuknya gejala uremik menjadi semakin jelas,  diindikasikan pengobatan yang lebih agresif  (Kotak 44-1) Pengobatan ini dikenal dengan terapi penggantian ginjal.

         Dialisis dan transplantasi organ adalah dua metode pada penggantian ginjal. Dialisis ada dua bentuk, peritoneal atau hemodialisis. Keduanya modalitas dialisis tersebut dapat diterapkan untuk jangka waktu pendek atau panjang, tetapi membutuhkan peralatan khusus dan perawat dengan pelatihan khusus.

       Dialisis peritoneal adalah metode tidak langsung membersihkan darah dari sampah produksi tubuh dengan menggunakan osmosis dan difusi. Peritoneum berfungsi sebagai membran semipermeabel. Sisa cairan dan sampah produksi tubuh telah siap dibuang dari aliran darah dengan cairan elektrolit steril (dialisat) yang ditanam di dalam rongga peritoneum dengan prinsip gaya berat melalui pembedahanuntuk manempatkan kateter. Dialisat tetap tinggal di rongga untuk jangka waktu yang ditentukan dan lalu dikeluarkan dengan prinsip gaya berat , membawa kumpulan sampah dan sisa cairan dan elektrolit.

       Hemodialisis menggunakan mesin yang dilengkapi dengan senuah membran penyaring semipermeabel (pengganti ginjal) yang memindahkan akumulasi sampah produksi tubuh dan sisa cairan dari darah. Pada mesin dialisis, cairan dialisat dipompa memalui satu sisi membran penyaring (pengganti ginjal) sementara darah pasien melalui sisi yang lain. Proses difusi, osmosis dan ultrafiltrasi membersihkan darah klien, dan kembali lagi melewati pembuluh yang ditempatkan secara khusus menuju alat (Gore-Tex graft, fistula arteriovenus atau kateter hemodialisis).

       Transplantasi organ adalah penggantian pada ginjal klien yang sakit dengan ginjal yang sehat dari donor hidup atau donor mayat dengan  jenis darah dan jaringan yang cocok. Organ baru ditanamkan melalui pembedahan kedalam abdomen. Pengobatan khusus (immunosupresif) diberikan untuk kehidupan (life) untuk mencegah tubuh dari penolakan organ transplantasi. Tidak seperti pengobatan yang lain, keberhasilan transplantasi organ menawarkan klien kemungkinan perbaikan fungsi ginjal yang normal.

 

       Faktor sosial budaya. Tingkat privasi yang dibutuhkan selama berkemih, berubah-ubah sesuai dengan norma bidaya. Orang amerika utara mengharapkan fasilitas kakus yang sangat privasi, simana pada beberapa budaya eropa dapat menerima fasilitas kakus yang digunakan secara bersama. Harapan sosial (misalnya waktu istiraha sekolah) mempengaruhi waktu berkemih.

       Pendekatan klien pada eliminasi urin membutuhkan pertimbangan budaya, sosial dan perilaku jenis kelamin. Jika klien lebih menyukai privasi, perawat berusaha untuk mencegah interupsi pengosongan kandung kemih klien. Klien yang lebih sedikit membutuhkan privasi seharusnya diperlakukan sesuai dengan pemahaman dan penerimaannya. Tempatkan klien pada posisi yang nyaman. Laki-laki umumnya berkemih dengan baik pada posisi berdiri, sementara wanita pada umumnya duduk di atas kakus. Pada beberapa budaya klien berjongkaok di atas kaksu dari pada duduk di atasnya. Budaya menentukan kapan dan di mana hal tersebut tepat untuk berkemih. Budaya menentukan apakah hal tersebut tepat untuk laki-laki sama halnya untuk kebutuhan berkemih pada wanita. (lihat bab 8).

 

       Faktor Psikologi. Kecemasan dan stres emosi dapat menyebabkan perasaan ingin berkemih dan meningkatkan frekuensi berkemih. Kecemasan dapat mencegah seseorang untuk mampu berkemih secara tuntas; hasilnya keinginan untuk mengosongkan kandung kemih kembali terjadi sesaat setelah pengosongan kandung kemih. Tekanan emosi membuat sulit untuk merilekskan otot abdomen dan perineal. Jika spinkter uretra eksternal tidak dapat relaksasi secara lengkap, pengosongan kandung kemih juga tidak tuntas dan urin ditahan di dalam kandung kemih. Berusaha mengosongkan kandung kemih di ruang istirahat umum (publik) akan menyebabkan ketidakmampuan sementara untuk mengosongkan kandung kemih. Privasi danwaktu yang cukup untuk berkemih biasanya penting pada beberapa orang. Beberapa orang membutuhkan distraksi (misanya membaca) untuk rileks.

 

Tonus Otot. Otot abdomen dan dasar panggul yang lemah merusak kontraksi kandung kemih dan kontrol  pada spingkter uretra eksternal. Kontrol mikturisi yang buruk diakibatkan oleh otot pembuangan yang emngalami imobilitas yang memanjang. Peregangan otot selama melahirkan anak, atropi otot pada menopause, atau kerusakan trauma pada otot. Keluaran urin yang terus menerus  melalui kateter indwleing menyebabkan hilangnya tonus pada kandung kemih dan/ atau kerusakan pada spinkter uretra. Ketika kateter dilepas, klien mengalami kesulitan untuk dapat kontrol berkemih.

       Keseimbangan Cairan. Ginjal mempertahankan sensitivitas keseimbangan antara retensi dan eksresi cairan (lihat Bab 40). Jika cairan dan konsentrasi elektrolit dan pelarut seimbang, peningkatan asupan cairan menyebabkan peningkatan produksi urin. Cairan yang masuk ke dalam tubuh meningkatkan sirkulasi plsma tubuh dan juga meningkatkan volume urin yang dikeluarkan.

       Jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan asupan makanan dan cairan. Banyaknya urin yang dibentuk pada malam hari adalah separuh dari yang terbentuk sepanjang hari karena baik asupan maupun metabolisme menurun. Berkemih dengan sering pada malam hari (nokturia) dapat menandakan terjadinya perubahan pada ginjal. Pada orang yang sehat, asupan air yang terdapat pada makanan dan cairan menyeimbangkan keluaran air pada urion, feses dan cairan yang hilan tanpa dapat dilihat melalui perspirasi dan pernafasan. Keluaran urin yang berlebihan dikenal dengan poliuria.

 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :