IRA SUARILAH


Berpacu menjadi yang terbaik

Rasa nyaman; Nyeri

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN GANGGUAN RASA NYAMAN ( NYERI)

 

 

 

 KONSEP DASAR

 A.   PENGERTIAN GANGGUAN RASA NYAMAN

Pengertian rasa nyaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai suatu keadaan yang membuat perasaan menjadi lebih menyenangkan dan menjadi lebih baik.

Rasa nyaman dapat didukung oleh lingkungan yang terapeutik meliputi lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Lingkungan internal adalah  rasa kebebasan, memiliki rasa kontrol dan terbebas dari rangsang nyeri.  Lingkungan eksternal meliputi temperatur, ventilasi, kegaduhan, pencahayaan, lingkungan yang berbahaya dan kelembapan.

 

Pengertian gangguan rasa nyaman, “The state in which an individual experiences an uncomfortable sensation in respon to nuxious stimulus

(Nursing Diagnosis Aplication to Clinical Practice, Linda Juall Carpenito, 6th edition, 1995).

Artinya suatu pernyataan pada individu yang mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam merespon stimulus yang berlebihan.

 

 

B.   PENGERTIAN NYERI

Menurut Engel

A basically unpleasant sensation reffered to the body which represent the suffering induced by the psychic perseption of real, treatened or phantasied injury

(Fundamental of Nursing Concept and Procedures, barbara Kozier & Glenora Erb, 1983)

Artinya Nyeri adalah suatu dasar sensasi ketidaknyamanan yang berhubungan dengan tubuh yang dimanifestasikan sebagai penderitaan yang diakibatkan oleh persepsi jiwa yang nyata, ancaman, atau fantasi luka.

 

Menurut Sternbach, Mc Caffery and The International Assosiation on Pain

“ Pain is an abstract concept which refer to :

  1. Which personal private sensation hurt
  2. A harmful stimulus which signals current or impending tissue damage
  3. A patter or responses to protect the organism from harm

(Medical Surgical, Donna D Ignativius, 1991)

Artinya nyeri adalah suatu konsep abstrak yang mengacu pada :

  1. Sensasi sakit yang bersifat perorangan
  2. Stimulus yang berbahaya yang merupakan tanda danya kerusakan jaringan
  3. Pola respon untuk melindungi mahluk hidup dari bahaya

 

International Association on Pain (1979)

“Described it as an unpleasant sensory and emotional experience associated with actual or potensial tissue demage or described in term of such damage”

Artinya Nyeri menggambarkan  sebagai sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial atau dijelaskan dengan istilah kerusakan.

 

 

C.    TEORI NYERI

  1. Specificity teori

Teori ini dikembangkan tahun 1800-an, teori ini menekankan struktur dan jalan yang sangat spesifik untuk transmisi nyeri. Premisnya berdasarkan pada keberadaan ujung saraf bebas dalam perifer yang berperan sebagai penerima rangsang nyeri yang dapat menerima masukan sensory dan menstransmisikan informasi ini sepanjang serat saraf khusus

 

  1. Patter teori

Teori ini mengidentifikasi adanya dua serabut nyeri yaitu serabut yang dapat menyampaikan dengan cepat dan serabut saraf yang menyampikan dengan lambat. Kedua serat bersinaps dalam spinal cord dan merelai informasi ke otak mengenai jumlah, intensitas, dan tipe input sensori nyeri yang menafsirkan karakter dan kuantitas input sensori nyeri.

 

  1. Gate control teori

Teori ini dikemukakan oleh Melzack & Wall (1982). Teori ini menjelaskan suatu mekanisme dalam spinal cord yang bertindak sebagai sebuah pintu yang membuka dan menutup transmisi impuls nyeri ke otak. Dimana tempat pintu tersebut adalah suatu area dalam spinal cord yang disebut Substansia gelatinosa.

Didalam Subtansia gelatinosa terbentuk sinaps pada Cornu posterior medulla spinalis dari serabut saraf tebal dan tipis. Jika pintu membuka maka impuls masuk ke spinal cord dan nyeri dipersepsikan dan jika pintu dalam Substansia gelatinosa ditutup transmisi impuls nyeri ke T cells dan otak di blok sehingga tidak ada impuls nyeri.

 

Yang berperan dalam membuka dan menutup pintu dalam Substansia gelatinosa adalah serabut syaraf yang berdiameter besar dan serabut syaraf yang berdiameter kecil. Serabut syaraf berdiameter kecil akan menyebabkan pintu dalam Substansia gelatinosa membuka sehingga ada persepsi nyeri dan apabila serabut syaraf yang berdiameter besar banyak maka akan menutupkan pintu dalam Substansia sehingga menurunkan transmisi nyeri.

 

 

D.   FISIOLOGI NYERI

  1. Reseptor Nyeri

Tubuh tidak mempunyai organ-organ atau sel-sel khusus yang berperan dalam rangsang nyeri. Rangsang nyeri diterima oleh ujung-ujung saraf bebas yang disebut sebagai Nociceptor. Reseptor saraf tersebut tersebar dalam lapisan kulit dan jaringan tertentu yang lebih dalam.

Ujung saraf bebas sebagai penerima rangsang nyeri dapat terstimuli oleh tiga stimulus, yaitu :

 

  1. Mekanik, yang diterima oleh reseptor nyeri mekanosensitif. Rasa nyeri terjadi akibat ujung saraf bebas mengalami kerusakan akibat terjadi trauma misalnya karena benturan atau gesekan.
  2. Thermis, diterima oleh reseptor nyeri thermosensitif, nyeri terjadi karena ujung saraf reseptor mendapat rangsangan panas atau dingin yang berlebihan.
  3. Kimia, diterima oleh reseptor nyeri khemosensitif sebgai akibat perangsangan zat-zat kimia, yaitu bradikinin, serotinin, ion kalium, asam, prostaglandin, asetilkolon dan enzim proteolitik.

 

  1. Mekanisme penghantaran impuls nyeri

Impuls nyeri dihantarkan ke SSP melalui dua sistem serabut saraf, yaitu :

  1. Serabut delta A, terutama terdapat pada kulit dan otot, bermielin halus dengan garis tengah 2-5 um yang akan menghantarkan dengan kecepatan 6-30 m/ detik berakhir pada lamina I dan V Cornu dorsalis, tempat saraf sensorik perifer kecil berakhir di Medulla spinalis, serat ini kemudian menyilang didalam Komisura anterior Medulla spinalis menuju Columna alba anterolateralis pada sisi yang berlawanan kemudian bergabung dengan serabut lain di Tractus spinothalamicus anterolateralis menuju batang otak, kemudian menuju Ventrobasal thalamus dan ke Korteks cerebri untuk persepsi nyeri.
Persepsi nyeri ini dapat berupa sensasi nyeri menusuk dan tajam, sensasi ini dapat dilokalisasi dengan baik.

 

  1. Serabur C, didistribusikan dalam otot, periosteum dan viscera, serabut ini tidak bermielin dengan garis tengah 0,4 – 1,2 um, menghantarkan impuls dengan kecepatan lamban yaitu 0,5 – 2,0 m/detik berakhir pada lamina II dan III. Kemudian menuju btang otak melalui Traktus spinothalamicus anterolateralis dan mengadakan sinap pada Formatio retikularis btang otak kemudian menuju Nukleus intralaminalis setelah itu ke area sensorik somatik Cortex cerebri. Nyeri yang dipersepsikan berupa nyeri difus, panas terbakar dan samar.

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

Stimulus

(kimia, mekanik, termis)

 

Sel rusak

 

Produksi zat-zat kimia

(serotonin, bradikinin, enzim proteolitik, prostaglandin, asetilkolin, dll.)

 

Merusak ujung saraf reseptor nyeri ; nociceptor

 
   

 


Serabut saraf delta A                  Serabut saraf delta  C

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 


Menyilang di dalam komisura anterior Medulla Spinalis

 

Columna Alba anterolateralis è bergabung dengan serabut lain

 
   

 


Tractus spinothalamicus anterolateralis

 
   

 


Batang otak

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Interpretasi & Lokalisasi nyeri

 
   

 

 


Gangguan rasa nyaman nyeri

 

 

 

 

 

 

E.    KLASIFIKASI NYERI

Persepsi nyeri dapat diklasifikasikan dalam beberapa golongan berdasarkan

 

1.    Menurut  tempatnya
  1. a.    Perifer Pain

Yaitu nyeri pada daerah perifer biasanya dirasakan pada permukaan tubuh seperti kulit dan mukosa

 

  1. b.    Deep Pain

Yaitu nyeri yang dirasakan dari struktur somatik dalam meliputi periosteum, otot, tendon, sendi, pembuluh darah

 

  1. c.    Viseral / Splanik pain

Nyeri terjadi pada organ viseral seperti Renal colic, Cholesistitis, Apendisitis, Ulkus gaster

 

  1. d.    Reffered Pain (nyeri alihan)

Nyeri yang diakibatkan penyakit organ atau struktur dalam tubuh (Vertebrata, alat-alat viseral, otot) yang ditransmisikan kebgian tubuh didaerah yang jauh sehingga dirasakan nyeri pada bagian tubuh tertentu tetapi sebetulnya bukan asal nyeri

 

  1. e.    Psykogenic Pain

Nyeri yang dirasakan tanpa penyebab organik tetapi akibat trauma psikologis yang mempengaruhi keadaan fisik

 

          f. Phantom Pain

Nyeri yang dirasakan pada bagian tubuh yang sebenarnya bagian tubuh tersebut sudah tidak ada. Contoh : Nyeri pada ujung kaki yang sebetulnya sudah diamputasi.

 

  1. f.     Intractable pain

Nyeri yang resisten

 

  1. Menurut serangannya
  1. a.    Nyeri akut

Nyeri akut terjadi kurang dari 6 bulan biasanya nyeri dirasakan mendadak dan area nyeri dapat diidentifikasi. Nyeri akut mempunyai  karakteristik meningkatnya ketegangan otot dan kecemasan.

 

  1. b.    Nyeri kronik

Nyeri yang bertahan lebih dari 6 bulan, sumber nyeri tidak dapat diketahui dan nyeri sulit dihilangkan. Sensasi nyeri dapat berupa nyeri difus sehingga sulit untuk diidentifikasi secara spesifik sumber nyeri tersebut.

 

  1. Menurut sifatnya
  1. a.    Insidentil

Nyeri timbul sewaktu-waktu kemudian menghilang. Misalnya pada trauma ringan.

 

 

  1. b.    Stedy

Nyeri yang timbul menetap dan dirasakan dalam waktu yang lama, misalnya abses.

 

  1. c.    Paroxymal

Nyeri yang dirasakan dengan intensitas tinggi dan kuat, biasanya menetap lebih kurang 10-15 menit kemudian hilang dan timbul lagi.

 

 

 

F.    RESPON TERHADAP NYERI

Dipengaruhi :

-          Ambang nyeri

-          Pain tolerance, yang dipengaruhi :

  • Psikologis
  • Familial
  • Cultural
  • Environment
  • Past experience
  • Pain perception
  • Age
  • Meaning of pain
  • Location, duration, intensitas of pain

 

G.   RESPON PSIKOLOGIS

-          Fear (takut)

-          Anxiety

-          Depression

 

H.   RESPON FISIK

-          Menggigit bibir

-          Menggertakkan gigi

-          Expresi wajah : mengerutkan wajah dan mengeryitkan alis

-          Melakukan gerakan : volunter ( sengaja), involunter

 

 

I.    RESPON FISIOLOGIS TERHADAP NYERI

Terdiri dari 3 stage :

  1. 1.    Activation Stage :

Dimulai saat muncul persepsi nyeri è reaksi fight or flight

Aktivitas sistem saraf simpatis.

Medulla adrenal mensekresi cathecolamin è darah berpindah dari non vital è vital

Kontrisk                                                         Dilatasi

- Kulit                                                  - Jantung

- Lien                                                  - Otot rangka

- Ginjal                                                - Paru

- Intestine

 

 

      Efek yang terjadi :

  • Muka pucat
  • Pupil dilatasi
  • Respirasi rate meningkat
  • Denyut jantung meningkat
  • Kontraksi jantung meningkat
  • Ketegangan otot bertambah
  • Simpanan energi menurun

 

Penurunan parasimpatis :

  • Anorexia
  • Nausea
  • Muntah
  • Aktivitas GIT menurun

 

  1. 2.    Rebound Stage

Nyeri dirasakan hebat tapi singkat

è sistem saraf parasimpatis mengambil alih :

* Penurunan Hr

* Penurunan TD

          Jika nyeri

 

  1. 3.    Adaptation Stage

Jika terjadi penghambatan pada pusat vasomotor di Medulla è tonus vasomotor menurun è shock.

 

 

J.    SISTEM PENGATURAN NYERI

Derajat reaksi individu terhadap nyeri sangat berfariasi disebabkan oleh kemampuan otak mengatur :

  • Jumlah sinyal nyeri yang masuk kedalam sistem saraf
  • Pengaktifan sistem pengatur nyeri (sistem analgesia)

 

SISTEM ANALGESIA

Terdiri dari :

  1. Area Substansia grisea periakuaductus dari Mesensefalon dan bagian atas Pons
  2. Nukleus rafe magnus, terletak di bawah Pons dan bagian atas Medulla oblangata
  3. Kompleks inhibisi nyeri didalam Radiks dorsalis Medulla spinalis

 

NEUROTRANSMITER :

  • Enkefalin
  • Serotonin

 

Sistem analgesia akan memblocking sinyal nyeri pada tempat masuk ke Medulla spinalis

 

 

SISTEM OPIUM OTAK :

  • Pemberian morphin akan meningkatkan perangsangan pada sistem analgesia

 

  • Bagian otak bahan opium yang disekresikan adalah :

- Beta endorfin

          -  Met enkefalin

          - Leu enkefalin

     - Dinorfin

              (Beta endorfin dan Dinorfin terdapat pada hipothalamus dan   

                kelenjar hipofise)

 

 

K.   FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI NYERI

  1. Lingkungan

Rasa nyeri timbul bertambah apabila adanya stimulus dilingkungan sekitarnya. Suara yang gaduh dan keras, cahaya yang sangat terang dapat meningkatkan intensitas nyeri.

 

  1. Umur

Toleransi nyeri pada orang dewasa lebih berkembang karena kebiasaan untuk mengerti dan mengontrol nyeri akan berkembang sesuai dengan perkembangan usia.

 

  1. Jenis Kelamin

Jenis Kelamin mempengaruhi toleransi terhadap nyeri. Pada umumnya laki-laki lebih mentoleransi rasa  nyeri dari pada wanita.

 

  1. Kelelahan

Kelelahan merupakan faktor penyebab bertambahnya rasa nyeri karena ketidakmampuan menggunakan mekanisme koping yang konstruktif.

 

  1. Budaya

Tanggapan terhadap nyeri dapat dipengaruhi oleh faktor budaya, makna nyeri dan harapan interv ensi berbeda diantara kebudayaan

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN

 

  1. 1.    PENGKAJIAN

1.1         Riwayat Nyeri  :

Data yang harus dikumpulkan dalam riwayat nyeri meliputi : Lokasi  (Region), Intensitas  (Severity), Qualias, Pola, Waktu kejadian  (Time), factor yang memperberat / memperingan, efek pada aktivitas sehari-hari, pengalaman sebelum nyeri, arti nyeri bagi individu, sumber koping dan respon afektif.

Perawat harus memberi kesempatan klien untuk mengekspresikan dalam kata-katanya sendiri, bagaimana mereka memperlihatkan nyeri dan situasinya, ini akan membantu perawat mengerti apa arti sakit untuk klien dan bagaimana koping klien terhadap hal itu. Perlu diingat bahwa setiap pengalaman nyeri seseorang adalah unik bahwa klien adalah interpreter terbaik dalam pengalaman nyerinya.

  1. Lokasi :

Nyeri superficial biasanya dapat dilokasikan dengan tepat oleh klien, tetapi nyeri yang timbul dari viscera dirasakan secara umum. Perawat perlu menentukan lokasi / letak nyeri klien.

Untuk menentukan lokasi nyeri pada anak, perawat perlu mengerti dan memahami perbendaharaan kata anak, perawat sdebaiknya meminta anak untuk menunjukkan titik nyeri bukan menyuruh menerangkan. Orang tua dapat membantu perawat untuk menginterpretasikan arti dari kata-kata si anak. Pada anak-anak yang lebih kecil atau bayi perawat dapat melakukan observasi tangis dalam merespon gerakan untuk menentukan lokasi nyerinya.

 

  1. Intensitas ;

Intensitas atau tingkat keparahan nyeri bersifat subyektif, beberapa factor yang mempengaruhi persepsi dari intensitas, meliputi :

  • Jumlah distraksi / konsentrasi klien pada kejadian yang lalu
  • Tingkat kesadaran klien
  • Harapan klien

Nyeri dapat didiskripsikan menjadi sangat ringan, ringan, sedang, parah ; klien diminta untuk menunjukkan point skala yang tepat.

 

  1. Qualitas ;

Deskripsi kata-kata sifat membantu orang-orang untuk menjelaskan kualitas nyeri, sakit kepala mungkin dideskripsikan seperti dipukul palu atau nyeri perut dideskripsikan seperti ditusuk pisau. Kadang-kadang pasien merasa kesulitan untuk mendeskripsikan nyeri karena mereka tidak pernah memiliki pengalaman merasakan sensasi tersebut.

Beberapa segi yang digunakan untuk mendeskripsikan nyeri antara lain :

  • Sakit / sangat sakit
  • Terbakar
  • Konstan / menetap
  • Kejang
  • Hancur
  • Terpotong
  • Terhambur
  • Lemah
  • Menyiksa
  • Mengerip
  • Seperti di palu
  • Berat
  • Sewaktu-waktu
  • Meradang
  • Menyodok
  • Seperti tertusuk
  • Tajam
  • Menembus
  • Tercubit
  • Tertumbuh
  • Berair / gatal
  • Memancar
  • Teradiasi
  • Menekan
  • Pindah
  • Tertikam

 

Intensitas nyeri dapat ditentukan dengan berbagai cara baik dengan cara bertanya pada klien tentang nyeri maupun bertanya untuk menguraikan bagaimana gawatnya nyeri dengan menggunakan skala.

Perawat harus mencatat kata-kata secara tepat yang digunakan untuk mendeskripsikan nyeri, kata-kata pasien lebih akurat dan deskripsi dari interprestasi kata-kata perawat sendiri.

 

  1. Pola ;

Pola nyeri meliputi lama mulai nyeri atau waktu mulai, durasi dan lamanya atau interval tanpa nyeri. Perawat harus membedakan kapan mulai nyeri, berapa lama nyeri berakhir, apakah dapat sembuh kembali dan jika dapat lama interval tanpa nyeri, dan kapan nyeri terakhir terjadi ?

Interval dalam nyeri sangat penting, sebagai contoh interval diantara kontraksi waktu melhirkan membantu perawat maternitas mengkaji keadaan perkembangan klien, pada saat melahirkan ; ketika kelahiran sudah dekat rasa sakit menjadi lebih sering dan parah.

 

  1. Faktor Pencetus ;

Aktivitas nyata sering kali menyebabkan nyeri, sebagai contoh latihan fisik dapat menimbulkan nyeri dada atau nyeri abdomen yang mungkin terjadi setelah makan. Observasi tersebut dapat membantu mencegah nyeri dan mendeteksi penyebabnya.

Faktor lingkungan dapat menyebabkan nyeri pada seseorang yang sehat atau sakit, situasi dingin atau panas dan kelembapan yang tinggi dapat mempengaruhi beberapa tipe nyeri, sebagai contoh latihan yang mendadak pada hari yang panas dapat menyebabkan kram otot. Stressor fisik dan emosional dapat menimbulkan nyeri, ketegangan emosional secara beruntun dapat menyebabkan migrain, ketakutan yang sering atau latihan fisik dapat menyebabkan angina.

 

  1. Factor yang mengurangi ;

Hal-hal yang perlu dikaji terkait dengan factor-faktor yang dapat mengurangi nyeri meliputi ; pengunaan analgesik, istirahat, pengunaan kompres hangat / dingin. Perawat juga menggali seberapa jauh pengukuran sebelum memperoleh pertolongan dan apakah mereka mempunyai efek yang lain atau yang membuat nyerinya semakin memburuk.

 

  1. Gejala yang berhubungan ;

Yang termasuk dalam penilaian klinik dari nyeri meliputi gejala-gejala seperti muntah, pusing dan konstipasi. Kadang-kadang klien mengalami seperti gejala yang tiba-tiba sebelum nyeri timbul.

 

 

  1. Efek terhadap Aktivitas Sehari-hari ;

Mengetahui bagaimana aktivitas sehari-hari dapat dipengaruhi oleh rasa sakit atau nyeri, membantu perawat mengetahui persepsi klien tentang tingkat keparahan nyeri. Beberapa peralatan dapat dikembangkan untuk membantu perawat pada pengkajian ini, termasuk skala pengukuran tentang efek nyeri pada aktivitas sehari-hari.

 

  1. Pengalaman Nyeri Sebelumnya

Pengalaman nyeri sebelumnya mempengaruhi sensitifitas klien terhadap nyeri yang dirasakan. Seseorang yang mempunyai pengalaman nyeri atau sakit secara personal atau pernah mengenali penderitaan atau kesakitan orang lain biasanya lebih terlatih untuk mengantisipasi nyeri daripada seseorang tanpa pengalaman diatas.

 

  1. Arti nyeri bagi individu ;

Beberapa klien mungkin menerima nyeri lebih siap daripada yang lain, tergantung dari keadaan dan interpretasi klien tentang nyeri. Klien yang menginterpretasikan rasa sakit / nyeri dengan pandangan yang positif mungkin dapat mengatasi nyeri secara baik sedangkan klien yang tidak mau menerima rasa nyeri yang kronis mungkin akan lebih menderita, mereka merespon dengan putus asa, cemas dan depresi ketika mereka tidak dapat melihat dengan pandangan yang positif atau tujuan yang positif dari nyeri tersebut.

 

  1. Sumber Koping ;

Klien kadang-kadang mempelajari cara koping yang paling efektif terhadap nyeri, cara ini mungkin memodifikasi rasa nyeri tersebut pada berbagai tingkatan, dimana pengkajian nyeri menjadi tidak lengkap. Kecuali kalau perawat peduli terhadap mereka. Seseorang dengan nyeri seringkali mempunyai strategi dan gaya koping yang dipelajari selama masa anak-anak. Meskipun pengkajian strategi koping tidak menolong perawat dalam mengkaji rasa nyeri klien hal tersebut dapat lebih mudah untuk mengerti rasa nyeri yang dirasakan klien.

 

  1. Respon Afektif ;

Beberapa respon afektif dipengaruhi oleh keadaan, tingkatan dan durasi nyeri, interpretasi klien dan beberapa factor yang lain. Perawat perlu menggali lebih lanjut tentang perasaan klien seperti cemas, takut, kelelahan, depresi dan rasa takut akan kegagalan. Karena beberapa orang dengan nyeri kronis menjadi depresi dan  berpotensi bunuh diri, mungkin juga diperlukan untuk mengkaji kecenderungan klien untuk bunuh diri. Pada beberapa situasi perawat perlu untuk menanyakan pada klien apakah dia pernah merasa begitu buruk sehingga dia ingin mati dan apakah dia merasakan hal itu sekarang.

 

 

1.2         Skala urutan nyeri untuk anak-anak

 

  1. 1.    Skala urutan nyeri berdasarkan ekspresi wajah (Wong & Baker, 1988, Wong, 1996)

Terdiri dari enam wajah kartun, mulai dari wajah tertawa sebagai tanda tidak nyeri sampai wajah  menangis yang menunjukkan nyeri terhebat.

Instruksi yang diberikan untuk anak-anak yang akan dikaji ; jelaskan pada sang anak tentang masing-masing wajah kartun digambar itu.

 

Wajah 0   : sangat bahagia karena tidak ada nyeri sama sekali

Wajah 1   : sedikit terasa nyeri

Wajah 2   : Lebih terasa nyeri

Wajah 3   : Lebih terasa nyeri lagi

Wajah 4   : Sangat nyeri

Wajah 5  : Nyeri yang terhebat yang bisa kamu bayangkan meskipun 

                kamu tidak menangis untuk merasakannya.

 

 

 

 

 

 

 

Suruhlah anak itu memilih salah satu gambar wajah kartun itu yang menurutnya paling tepat untuk dapat mengambarkan rasa nyerinya, kemudian catat nomor yang dia pilih di lembar pengkajian. Umur yang direkomendasikan / dianjurkan untuk jenis skala ini adalah untuk anak sekitar 3 tahun.

 

  1. 2.    Oucher (Beyer, dkk., 1995)

Terdiri dari 6 (enam) foto yang berisi wajah dari anak-anak yang menggambarkan “tidak nyeri” sampai “nyeri yang terhebat yang pernah kamu rasakan”. Dan disertai dengan skala vertikal dengan nomor 1-100.

 

Skala numeral :

Tunjuk tiap-tiap bagian dari skala untuk menjelaskan variasi intensitas nyeri.

Nomor 0            : berarti tidak nyeri

Nomor 1 – 29     : sedikit nyeri

Nomor 30 – 69    : nyeri yang sedang

Nomor 70 – 90    : nyeri yang hebat

Nomor 100         : nyeri yang paling hebat yang pernah kamu miliki /

                           alami.

 

Angka harus secara langsung ditunjuk oleh sang anak.

 

Skala Fotografi :

Tunjuk masing-masing foto dari Oucher dan terangkan variasi dari intensitas nyeri dengan disertai keterangan bahasa, mulai dari gambar yang terbawah :

Gambar 1           : tidak nyeri

Gambar 2 : sedikit nyeri

Gambar 3 : lebih nyeri

Gambar 4 : lebih nyeri lagi

Gambar 5 : sangat nyeri

Gambar 6 : nyeri yang terhebat yang pernah kau alami

 

Direkomendasikan untuk anak umur 3 – 13 tahun

 

 

  1. 3.    Skala Numeral

Gunakan garis lurus dengan masing-masing ujungnya untuk mengidentifikasi “tidak nyeri” dan “nyeri yang terburuk”. Garis dibagi menjadi 10 nomer, mulai 0 – 10 (nomor yang tertinggi menyatakan intensitas nyeri yang paling parah)

Direkomendasikan untuk anak-anak usia 5 tahun.

          .         .         .         .         .         .         .         .         .         .        

          0        1        3        4        5        6        7        8        9        10     

 

 

  1. 4.    Dengan menggunakan Kartu sebagai alat

Gunakan 4 kartu merah, letakkan secara horisontal di depan sang anak, katakan pada sang anak bahwa tia-tiap kartu adalah potongan rasa nyeri. Mulailah menata kartu dari kiri sampai ke kanan didepan sang anak. Katakan bahwa kartu yang pertama menyatakan sedikit nyeri dan kartu yang ke empat menyatakan nyeri yang paling parah yang pernah kamu rasakan. Jika anak kurang mengerti jelaskanlah tiap-tiap kartu :

Kartu 1    : sedikit nyeri

Kartu 2    : sedikit lebih nyeri

Kartu 3    :  lebih nyeri lagi

Kartu 4    : nyeri yang paling hebat yang pernah kamu rasakan

 

Tanyakan berapa kartu yang dia miliki sekarang, kemudian tanyakan kepadanya tentang nyerinya itu baik lokasinya, gambaran tentang nyerinya dan penyebabnya. Kemudian tanyakan apa yang bisa kita lakukan untuknya. Catat kartu apa yang dipilihnya.

Direkomendasikan untuk anak usia 4 – 4,5  tahun, yang dapat menghitung dan memiliki konsep tentang hubungan tiap-tiap angka.

 

  1. 5.    Skala yang bertuliskan kata urutan dari nyeri (Tesler, dkk. 1991)

Gunakan kata untuk mendeskripsikan intensitas nyeri, jelaskan pada sang anak bahwa ini ada garis yang berisikan kata-kata yang dapat menggambarkan rasa nyeri. Tunjuk dengan jarimu mulai dari ujung kiri dengan kata “tidak nyeri” kemudian jalankan jarimu sampai ujung paling kanan yang berarti “nyeri yang terhebat”. Jelaskan kepadanya bahwa jika dia memiliki nyeri seperti pada salah satu kata pada garis, suruh dia untuk menandai kata itu, sebelumnya beri contoh kepadanya.

 

Direkomendasikan untuk anak-anak usia 4-17 tahun.

 

              .                  .                  .                  .                  .

              tidak nyeri     sedikit nyeri    nyeri sedang  nyeri hebat     nyeri

                                                                                                  yang paling

                                                                                              hebat

 

1.3         Pemeriksaan Fisik :

Untuk  menentukan respon psikologis dan perilaku klien terhadap nyeri, perawat mengkaji tanda-tanda vital dan mengobservasi perubahan warna kulit klien, kekeringan kulit, diaporesis, ekspresi wajah, isyarat tubuh yang merefleksikan nyeri, ketidaknyamanan atau kecemasan. Hal ini sebagai informasi tentang tingkat keparahan nyeri dan bagaimana koping klien.

 

a.  Respon Psikologis

Respon psikologis  bervariasi tergantung apakah nyeri akut atau kronik. Nyeri akut menstimulasi sistem saraf simpatis yang menghasilkan peningkatan tekanan darah, denyut nadi, frekuensi nafas, pucat, diaporesis dan dilatasi pupil. Sedangkan nyeri kronik atau nyeri visceral menstimulasi sistem saraf parasimpatis yang menyebabkan penurunan tekanan darah, penurunan denyut nadi, kontriksi pupil,  suhu tubuh hangat / panas, dan kulit kering.

b.  Respon Perilaku

Orang yang masih sangat muda, aphasia, binggung atau disorientasi sering mengungkapkan pengalaman nyerinya hanya secara non verbal. Ekspresi wajah sering merupakan indikasi pertama dari nyeri dan mungkin hanya satu-satunya. Menggertakkan gigi, mengeryitkan alis mata, mata redup, menggigit bibir bawah dan ekspresi wajah lain yang mengindikasikan nyeri.

Immobilisasi dari tubuh atau bagian tubuh dapat juga mengindikasikan nyeri, klien dengan nyeri dada sering menyilangkan tangan kirinya di dada, orang dengan nyeri perut biasanya mencari posisi yang paling nyaman dengan memfleksikan lutut dan pangkal paha serta enggan bergerak.

Gerakan-gerakan  tubuh yang tidak beraturan mudah mengindikasikan nyeri, contoh gelisah ditempat tidur.

 

 

  1. 2.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Nyeri sehubungan dengan :
  • Stress emosi
  • Overactivity
  • Tidak efektifnya strategi managemen nyeri
  • takut kecanduan penggunaan obat
  • Kurang pengetahuan tentang tindakan mengendalikan nyeri
  • Pengalaman masa lalu tentang kontrol nyeri yang lemah
  • Perasaan putus asa
  1. Nyeri kronik sehubungan dengan :
  1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas sehubungan dengan :

Nyeri dada post operasi insisi

  1. Kecemasan sehubungan dengan pengalaman  masa lalu tentang kontrol nyeri yang lemah

 

 

  1. 3.    MANAGEMEN NYERI

 

  1. Pedoman dalam tindakan mengurangi nyeri
  • Persiapan untuk menghadapi nyeri è menurunkan durasi dan intensitas nyeri oleh karena menurunnya kecemasan
  • Pendekatan preventif
  • Respon placebo
  • Kemampuan dan partisipasi pasien perlu dipertimbangkan
  • Menggunakan berbagai cara untuk mengurangi nyeri
  • Memperkenalkan cara menurangi nyeri yang baru
  • Memberikan analgetik :

-          Berikan sebelum nyeri bertambah hebat

-          Menentukan pasien yang mana yang mempunyai resiko tinggi untuk nyeri è kaji sesering mungkin untuk mengetahui adanya peningkatan nyeri

-          Pertimbangkan untuk pemberian obat narkotik pada waktu yang dibatasi (24-48 jam post operasi)

-          Jika obat diberikan, instruksikan agar pasien melaporkan jika nyeri tetap / muncul kembali

-          Gunakan parenteral pada nyeri akut

-          Pada chronic-unfluctuating pain gunakan obat oral

-          Jika memberikan beberapa analgetik yang terjadwal, berikan pada waktu yang berbeda

-          Kaji keefektifan analgetik

 

  1. Pencegahan Nyeri :
  • Gunakan turning sheet pada pasien yang mengalami nyeri pada leher, back atau seluruh badan
  • Letakkan bantal dibawah sendi yang nyeri saat rubah posisi
  • Hindari pindah posisi yang tiba-tiba

 

  1. Modifikasi stimulus nyeri
  • Perangsangan cutaneous :

-          Menggosok daerah nyeri

-          Back rub / menggosok punggung

-          Memberikan panas / dingin

-          Whirlpool massage

  • Menurunkan stimulus suara / penglihatan

-          Tempatkan pada ruangan yang tenang

-          Mengurangi cahaya

-          Mengurangi interaksi verbal saat nyeri hebat

  • Mengurangi sosial isolasi :

-          Rencanakan untuk sering kontak dengan tim kesehatan

-          Membolehkan dikunjungi kelaurga / teman dekat

-          Bantu pasien pada posisi yang lebih nyaman saat ada pengunjung

  • Sentuhan yang terapeutik
  • Distraksi dan relaxation exercise :

-          Distraksi : playing game, nonton TV, bicara dengan seseorang, mendengarkan lagu-lagu favorit, rythmic breathing, memfokuskan pada objek tertentu.

-          Relaxation exercise : progressive relaxation, Benson’s relaxation

 

  1. Modifikasi Respon nyeri
  1. Menjelaskan masalah yang terjadi
  2. Menurunkan anxiety :

-          Pelihara ketenangan

-          Bantu pasien untuk mengungkapkan keprihatinannya berkaitan dengan rasa nyeri yang dirasakan

-          Respek terhadap respon nyeri pasien

-          Genggam tangan pasien, jika sesuai

-          Berbicara dengan keluarga / teman dekat pasien dan bantu mereka untuk menurunkan kecemasannya sehingga tidak berdampak pada klien

-          Mengajarkan pada keluarga / teman dekat beberapa cara mengurangi nyeri, misalnya massage, back rub, relaksasi, dst.

 

  1. Relaxation :

Prinsip relaksasi :

-          Quiet environment :

Hindari kegaduhan dan semua hal yang dapat menyebabkan distraksi

-          Confortable position :

Duduk dengan tak ada otot yang tegang

-          Passive attitude :

Mengosongkan semua yang ada dalam pikiran

-          Mental device :

Fokuskan pada suara, kata ungkapan / ucapan, hayalan, objek / pola nafas untuk menukarkan pikiran dari logik      

 

  1. Medical approach :

-          Medication :

Obat anti nyeri yang bekerja pada pusat, meliputi :

  • Methadone
  • Pentacine
  • Levorplanol
  • Oxymorphone
  • Codein
  • Morphine
  • Hydromorphone
  • Meporidine
  • Propoxyphene

    Obat anti nyeri yang bekerja pada permukaan, meliputi :

  • Aspirin
  • Feroprofen
  • Indomethacine
  • Mefenamic acid
  • Naproxen
  • Plenil butazone
  • Piroxicam
  • Sulindac
  • Tolmetir
  • Zotrepirac

 

-          Electrical stimulator :

  • Modifikasi stimulus nyeri dengan membloking stimulus nyeri untuk cronik pain
  • Transcutaneous Electrical Nerve Stimulator (TENS) :

     Vander Ark & Mc Grath mengunakan Tens untuk mengatasi sakit pasca operasi perut dan thorak, rasa sakit hilang 10 %.

     Diazepam, Narkotik & Steroid punya pengaruh negatif pada   efek analgesik alat elektrik ini. Trisiklik anti depresan, L-Triptophan dan D-Phenyalanin meningkatkan efektivitas TENS. TENS ini mengurangi atau menghilangkan kebutuhan terhadap obat analgesik selama periode post operasi.

     Hasil penelitian Hynes

-          TENS dapat digunakan sebagai elektrostimulasi uterus pada post partum

-          TENS dapat meningkatkan aliran darah perifer ( efek vasomotor)

-          TENS juga mempunyai efek bakteriosida (arus listriknya berguna untuk perawatan kulit)

-          Pada post ostheoartritis TENS dapat menurunkan rasa nyeri dan bengkok (anti inflamasi)

  • Neurosurgical Procedure pada intratable pain :

*  Neurectomy

*  Rhizotomy

*  Cordotomy

*  Sympatectomy

 

 

 

          Nerve block : lokal anesthesi

          Accupuncture è gate controle theori

          Akupuntur merupakan salah satu model terapi invasive dari Cina yang digunakan dalam manajemen nyeri. Akupuntur tidak hanya untuk mengurangi nyeri tetapi juga untuk perawatan pada penyakit. Akupuntur merupakan metode terapeutik tradisional China yang digunakan dalam manajemen nyeri, cenderung mudah dipelajari, prinsip dasar dalam mekanisme akupuntur adalah Yin dan Yang atau keseimbangan.

          Ada 4 poin utama dalam akupuntur :

  1. Type akupuntur berhubungan dengan penggeraknya (motor)
  2. Type akupuntur yang mencari saraf pusatnya
  3. Type akupuntur pada permukaan kulitnya
  4. Type akupuntur yang bekerja  pada hubungan otot dan tendon.

 

  1. Psicologi approch :

-          Modifikasi tingkah laku ;

Pendekatan psikologi yang dilakukan meliputi pemahaman latar belakang lingkungan pasien, manipulasi (pengontrolan) perilaku nyeri pasien. Peningkatan pola perilaku tenaga kesehatan dalam mendukung terapi psikologi adalah dengan berusaha mengembalikan peran pasien dalam lingkungan sosial yang akhirnya pasien menyadari akan nyeri yang dideritanya, menciptakan koping yang sehat sehingga stress pasien terhadap nyerinya dapat dikurangi seoptimal mungkin.

-          Biofeeback and autogenic training ;

Proses dimana seseorang belajar untuk mempengaruhi respon psikologi yang biasanya tidak dibawah kontrol kesadaran dan yang mudah diregulasi, tidak berfungsi saat ada luka / penyakit.

-          Hiptosis

 

 

ABI’ 2003

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN GANGGUAN RASA NYAMAN ( NYERI)

 

 

 

 

KONSEP DASAR

 

  1. A.   PENGERTIAN GANGGUAN RASA NYAMAN

Pengertian rasa nyaman menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai suatu keadaan yang membuat perasaan menjadi lebih menyenangkan dan menjadi lebih baik.

Rasa nyaman dapat didukung oleh lingkungan yang terapeutik meliputi lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Lingkungan internal adalah  rasa kebebasan, memiliki rasa kontrol dan terbebas dari rangsang nyeri.  Lingkungan eksternal meliputi temperatur, ventilasi, kegaduhan, pencahayaan, lingkungan yang berbahaya dan kelembapan.

 

Pengertian gangguan rasa nyaman, “The state in which an individual experiences an uncomfortable sensation in respon to nuxious stimulus

(Nursing Diagnosis Aplication to Clinical Practice, Linda Juall Carpenito, 6th edition, 1995).

Artinya suatu pernyataan pada individu yang mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam merespon stimulus yang berlebihan.

 

 

B.   PENGERTIAN NYERI

Menurut Engel

A basically unpleasant sensation reffered to the body which represent the suffering induced by the psychic perseption of real, treatened or phantasied injury

(Fundamental of Nursing Concept and Procedures, barbara Kozier & Glenora Erb, 1983)

Artinya Nyeri adalah suatu dasar sensasi ketidaknyamanan yang berhubungan dengan tubuh yang dimanifestasikan sebagai penderitaan yang diakibatkan oleh persepsi jiwa yang nyata, ancaman, atau fantasi luka.

 

Menurut Sternbach, Mc Caffery and The International Assosiation on Pain

“ Pain is an abstract concept which refer to :

  1. Which personal private sensation hurt
  2. A harmful stimulus which signals current or impending tissue damage
  3. A patter or responses to protect the organism from harm

(Medical Surgical, Donna D Ignativius, 1991)

Artinya nyeri adalah suatu konsep abstrak yang mengacu pada :

  1. Sensasi sakit yang bersifat perorangan
  2. Stimulus yang berbahaya yang merupakan tanda danya kerusakan jaringan
  3. Pola respon untuk melindungi mahluk hidup dari bahaya

 

International Association on Pain (1979)

“Described it as an unpleasant sensory and emotional experience associated with actual or potensial tissue demage or described in term of such damage”

Artinya Nyeri menggambarkan  sebagai sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial atau dijelaskan dengan istilah kerusakan.

 

 

C.    TEORI NYERI

  1. Specificity teori

Teori ini dikembangkan tahun 1800-an, teori ini menekankan struktur dan jalan yang sangat spesifik untuk transmisi nyeri. Premisnya berdasarkan pada keberadaan ujung saraf bebas dalam perifer yang berperan sebagai penerima rangsang nyeri yang dapat menerima masukan sensory dan menstransmisikan informasi ini sepanjang serat saraf khusus

 

  1. Patter teori

Teori ini mengidentifikasi adanya dua serabut nyeri yaitu serabut yang dapat menyampaikan dengan cepat dan serabut saraf yang menyampikan dengan lambat. Kedua serat bersinaps dalam spinal cord dan merelai informasi ke otak mengenai jumlah, intensitas, dan tipe input sensori nyeri yang menafsirkan karakter dan kuantitas input sensori nyeri.

 

  1. Gate control teori

Teori ini dikemukakan oleh Melzack & Wall (1982). Teori ini menjelaskan suatu mekanisme dalam spinal cord yang bertindak sebagai sebuah pintu yang membuka dan menutup transmisi impuls nyeri ke otak. Dimana tempat pintu tersebut adalah suatu area dalam spinal cord yang disebut Substansia gelatinosa.

Didalam Subtansia gelatinosa terbentuk sinaps pada Cornu posterior medulla spinalis dari serabut saraf tebal dan tipis. Jika pintu membuka maka impuls masuk ke spinal cord dan nyeri dipersepsikan dan jika pintu dalam Substansia gelatinosa ditutup transmisi impuls nyeri ke T cells dan otak di blok sehingga tidak ada impuls nyeri.

 

Yang berperan dalam membuka dan menutup pintu dalam Substansia gelatinosa adalah serabut syaraf yang berdiameter besar dan serabut syaraf yang berdiameter kecil. Serabut syaraf berdiameter kecil akan menyebabkan pintu dalam Substansia gelatinosa membuka sehingga ada persepsi nyeri dan apabila serabut syaraf yang berdiameter besar banyak maka akan menutupkan pintu dalam Substansia sehingga menurunkan transmisi nyeri.

 

 

D.   FISIOLOGI NYERI

  1. Reseptor Nyeri

Tubuh tidak mempunyai organ-organ atau sel-sel khusus yang berperan dalam rangsang nyeri. Rangsang nyeri diterima oleh ujung-ujung saraf bebas yang disebut sebagai Nociceptor. Reseptor saraf tersebut tersebar dalam lapisan kulit dan jaringan tertentu yang lebih dalam.

Ujung saraf bebas sebagai penerima rangsang nyeri dapat terstimuli oleh tiga stimulus, yaitu :

 

  1. Mekanik, yang diterima oleh reseptor nyeri mekanosensitif. Rasa nyeri terjadi akibat ujung saraf bebas mengalami kerusakan akibat terjadi trauma misalnya karena benturan atau gesekan.
  2. Thermis, diterima oleh reseptor nyeri thermosensitif, nyeri terjadi karena ujung saraf reseptor mendapat rangsangan panas atau dingin yang berlebihan.
  3. Kimia, diterima oleh reseptor nyeri khemosensitif sebgai akibat perangsangan zat-zat kimia, yaitu bradikinin, serotinin, ion kalium, asam, prostaglandin, asetilkolon dan enzim proteolitik.

 

  1. Mekanisme penghantaran impuls nyeri

Impuls nyeri dihantarkan ke SSP melalui dua sistem serabut saraf, yaitu :

  1. Serabut delta A, terutama terdapat pada kulit dan otot, bermielin halus dengan garis tengah 2-5 um yang akan menghantarkan dengan kecepatan 6-30 m/ detik berakhir pada lamina I dan V Cornu dorsalis, tempat saraf sensorik perifer kecil berakhir di Medulla spinalis, serat ini kemudian menyilang didalam Komisura anterior Medulla spinalis menuju Columna alba anterolateralis pada sisi yang berlawanan kemudian bergabung dengan serabut lain di Tractus spinothalamicus anterolateralis menuju batang otak, kemudian menuju Ventrobasal thalamus dan ke Korteks cerebri untuk persepsi nyeri.
Persepsi nyeri ini dapat berupa sensasi nyeri menusuk dan tajam, sensasi ini dapat dilokalisasi dengan baik.

 

  1. Serabur C, didistribusikan dalam otot, periosteum dan viscera, serabut ini tidak bermielin dengan garis tengah 0,4 – 1,2 um, menghantarkan impuls dengan kecepatan lamban yaitu 0,5 – 2,0 m/detik berakhir pada lamina II dan III. Kemudian menuju btang otak melalui Traktus spinothalamicus anterolateralis dan mengadakan sinap pada Formatio retikularis btang otak kemudian menuju Nukleus intralaminalis setelah itu ke area sensorik somatik Cortex cerebri. Nyeri yang dipersepsikan berupa nyeri difus, panas terbakar dan samar.

 

 

 

 

 

 


 

 

 

 

Stimulus

(kimia, mekanik, termis)

 

Sel rusak

 

Produksi zat-zat kimia

(serotonin, bradikinin, enzim proteolitik, prostaglandin, asetilkolin, dll.)

 

Merusak ujung saraf reseptor nyeri ; nociceptor

 
   

 


Serabut saraf delta A                  Serabut saraf delta  C

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 


Menyilang di dalam komisura anterior Medulla Spinalis

 

Columna Alba anterolateralis è bergabung dengan serabut lain

 
   

 


Tractus spinothalamicus anterolateralis

 
   

 


Batang otak

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Interpretasi & Lokalisasi nyeri

 
   

 

 


Gangguan rasa nyaman nyeri

 

 

 

 

 

 

E.    KLASIFIKASI NYERI

Persepsi nyeri dapat diklasifikasikan dalam beberapa golongan berdasarkan

 

1.    Menurut  tempatnya
  1. a.    Perifer Pain

Yaitu nyeri pada daerah perifer biasanya dirasakan pada permukaan tubuh seperti kulit dan mukosa

 

  1. b.    Deep Pain

Yaitu nyeri yang dirasakan dari struktur somatik dalam meliputi periosteum, otot, tendon, sendi, pembuluh darah

 

  1. c.    Viseral / Splanik pain

Nyeri terjadi pada organ viseral seperti Renal colic, Cholesistitis, Apendisitis, Ulkus gaster

 

  1. d.    Reffered Pain (nyeri alihan)

Nyeri yang diakibatkan penyakit organ atau struktur dalam tubuh (Vertebrata, alat-alat viseral, otot) yang ditransmisikan kebgian tubuh didaerah yang jauh sehingga dirasakan nyeri pada bagian tubuh tertentu tetapi sebetulnya bukan asal nyeri

 

  1. e.    Psykogenic Pain

Nyeri yang dirasakan tanpa penyebab organik tetapi akibat trauma psikologis yang mempengaruhi keadaan fisik

 

          f. Phantom Pain

Nyeri yang dirasakan pada bagian tubuh yang sebenarnya bagian tubuh tersebut sudah tidak ada. Contoh : Nyeri pada ujung kaki yang sebetulnya sudah diamputasi.

 

  1. f.     Intractable pain

Nyeri yang resisten

 

  1. Menurut serangannya
  1. a.    Nyeri akut

Nyeri akut terjadi kurang dari 6 bulan biasanya nyeri dirasakan mendadak dan area nyeri dapat diidentifikasi. Nyeri akut mempunyai  karakteristik meningkatnya ketegangan otot dan kecemasan.

 

  1. b.    Nyeri kronik

Nyeri yang bertahan lebih dari 6 bulan, sumber nyeri tidak dapat diketahui dan nyeri sulit dihilangkan. Sensasi nyeri dapat berupa nyeri difus sehingga sulit untuk diidentifikasi secara spesifik sumber nyeri tersebut.

 

  1. Menurut sifatnya
  1. a.    Insidentil

Nyeri timbul sewaktu-waktu kemudian menghilang. Misalnya pada trauma ringan.

 

 

  1. b.    Stedy

Nyeri yang timbul menetap dan dirasakan dalam waktu yang lama, misalnya abses.

 

  1. c.    Paroxymal

Nyeri yang dirasakan dengan intensitas tinggi dan kuat, biasanya menetap lebih kurang 10-15 menit kemudian hilang dan timbul lagi.

 

 

 

F.    RESPON TERHADAP NYERI

Dipengaruhi :

-          Ambang nyeri

-          Pain tolerance, yang dipengaruhi :

  • Psikologis
  • Familial
  • Cultural
  • Environment
  • Past experience
  • Pain perception
  • Age
  • Meaning of pain
  • Location, duration, intensitas of pain

 

G.   RESPON PSIKOLOGIS

-          Fear (takut)

-          Anxiet

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :